Agama dan Pendidikan

PERSPEKTIF: Demokrasi dan SDM di New Normal

Apakah main video game atau kekuasaan, dua-duanya memiliki kesamaan, yakni bisa menyebabkan ketagihan.

Ada ungkapan klasik, “Fool me once, shame on you. Fool me twice, shame on me.”

Artinya, jangan salahkan orang lain bila jatuh ke lubang yang sama dua kali.

Bagaimana kalau jatuh ke lubang yang sama tiga kali? Dalam hal ini, we are really fooled. Kita betul-betul sulit tertolong.

Reformasi 1999 bukan murah harganya. Apalagi Revolusi 1965.

SDM DI NEW NORMAL?

Pada pre-covid, salah satu agenda utama pembangunan Indonesia adalah pemajuan sumber daya manusia (SDM).

Ketinggalan hampir satu generasi dengan negara tetangga yang sudah maju dalam hal kualitas SDM, agenda tersebut wajib didukung.

Tetapi pembangunan SDM adalah suatu investasi yang memerlukan waktu relatif lama untuk menuai hasilnya.

Kita belum bicara dana yang cukup besar dan apakah programnya dirancang dengan tepat dan benar.

Karena dampak negatif Covid terhadap ekonomi sangat dahsyat, di era New Normal, pragmatisme mungkin menjadi pertimbangan sangat penting dalam menentukan program yang akan dijalankan berikut alokasi anggarannya.

Lalu, apakah pembangunan SDM menjadi korban dari Covid juga?

Pandemik covid mengungkapkan bahwa manusia, dalam situasi tertentu, tidak lebih daripada komunitas herds, cenderung panik menghadapi ketidakpastian.

Mengapa seekor singa bisa menghalau atau membuat sekelompok banteng, yang jumlahnya bisa ratusan, lari kocar kacir?

Karena mereka panik dan tidak mau menjadi korban pertama daripada singa tersebut.

Bila mereka tidak panik tetapi melawan bersama-sama, sekelompok singa pun akan justru lari menjauh.

Kepanikan menekan rasionalitas seseorang. Prinsipnya, bertindak dulu persoalan kemudian. Old normal.

Apakah ini juga prinsip atau kecenderungan di era New Normal? Mari kembali ke isu SDM.

Membangun SDM, apalagi SDM suatu bangsa besar, memerlukan prinsip sebaliknya.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara