- Apakah kelompok yang skeptis tentang Covid menyangkal adanya coronavirus?
Yang skeptis bukan menyangkal bahwa coronavirus ada dan dapat menyebabkan korban jiwa. Tetapi mereka mempertanyakan apakah kecepatan penyebarannya dan tingkat bahayanya yang resmi disampaikan pemerintah di seluruh dunia betul-betul sesuai fakta.
Ini karena perkiraan para pakar dan birokrat kesehatan umum di awal pandemic Covid ternyata meleset sangat jauh dari realitas. Sementara perkiraan tersebut digunakan sebagai dasar untuk menjustifikasi kebijakan radikal dalam mengendalikan Covid.
Karena itu, golongan yang skeptis juga mempertanyakan apakah langkah-langkah pengendalian dan mitigasi sekarang adalah pilihan yang optimal.

- Mengapa harus mempertanyakan kebijakan pengendalian Covid?
Ketika suatu kebijakan publik membawa konsekuensi biaya sosial, ekonomi, dan psikologis yang amat sangat tinggi, warga dunia yang peduli tentulah wajar mempertanyakannya. Apalagi efek negatif suatu kebijakan yang radikal tidak mudah membalikkannya dalam sekejab.
Seperti kata pepatah, “menghancurkan sesuatu hanya perlu satu hari, tetapi membangunnya kembali perlu satu abad.”
Menurut Organisasi Pariwisata Dunia PBB, Eropa mencatat penurunan 70% dalam kedatangan turis pada tahun 2020, atau menurun lebih dari 500 juta wisatawan internasional, terbesar secara global.
Organisasi tersebut juga memperkirakan bahwa situasi pada tahun 2021 akan lebih memburuk. Sementara ada sekitar 12 juta pekerja di sektor parawisata di Eropa.
Ian Smulders, pemandu wisata di Crete, Yunani mengatakan, “2021 akan jauh lebih buruk daripada apa pun yang kita alami pada tahun 2020.”
Ini baru satu sektor.
- Bagaimana impak pendidikan daring selama Covid?
Penelitian dari Brookings Institute di AS menunjukkan bahwa remote learning (pendidikan daring) yang terjadi oleh karena pilihan kebijakan publik mengatasi Covid bisa berakibat kerugian ekonomi sampai 10 triliun dolar di AS. Itu hampir setengah pendapatan nasional AS.
Kerugian ini akan tercermin dari tingkat produktivitas nasional ketika pelajar dan mahasiswa tersebut sudah bekerja.
Brookings Institute bukan institusi yang anti Covid, tetapi analisa mereka tentang efek pendidikan daring ke pasar kerja patut dicermati. Bila itu benar, maka pendidikan daring bukan hanya lelucon, tetapi sangat negatif.
- Covid tidak bisa diperbandingkan dengan penyakit lain, betulkah?
Di tulisan sebelumnya saya mencoba menempatkan Covid dalam berbagai perspektif seperti menganalisa data yang ada secara objektif. Juga membandingkannya dengan penyakit kanker.
Orang kemudian mempertanyakan, mengatakan bahwa Covid dan kanker tidak bisa dibandingkan.
Benar, berbagai penyakit tidak bisa dibandingkan begitu saja. Umumnya masing-masing penyakit punya efek tertentu terhadap sistim kekebalan tubuh. Juga menular dengan cara dan tingkat yang berbeda-beda.
Secara medis, penanganannya atau pengobatannya juga berbeda-beda.
Tetapi banyak persamaan. Sama-sama menyangkut nyawa. Satu nyawa melayang oleh Covid seharusnya sama “nilainya” dengan satu nyawa melayang oleh karena kanker. Tidak ada alasan untuk berbeda.
Bahkan jika berbeda, justru dalam hal ini, nyawa yang melayang oleh karena kanker bisa jadi lebih bernilai secara sosial dan ekonomi.
