Tidak ada yang lebih emosional secara sosial (dan potensi impak ekonomi ke sama depan) daripada kehilangan anak.
Misalnya di AS, per 1 Agustus 2021 (setelah 18 bulan Covid), 596 anak di bawah 15 tahun meninggal oleh Covid. Atau 0.098% dari total kematian oleh dan bersama Covid.
Sementara tahun 2019, sejumlah 1115 anak di bawah usia 15 tahun meninggal di AS oleh karena kanker (1.7% total kematian kanker).
Bila proyeksi sama untuk tahun 2020, maka dalam 18 bulan sekitar 1650 anak usia 15 tahun meninggal karena kanker, hampir tiga kali jumlah yang meninggal oleh Covid.
- Tetapi kanker tidak menular, bukan?
Betul kanker tidak menular (meski secara genetis bisa transfer ke generasi berikutnya). Tetapi, suatu penyakit berbahaya atau tidak (yang menjadi dasar pengambilan keputusan umum untuk pengendaliannya), itu dilihat dari angka kematian yang disebabkannya.
Bila suatu penyakit menular dengan cepat, tetapi tidak menyebabkan korban jiwa besar, penyakit tersebut relatif tidak berbahaya.
Sekali lagi, suatu penyakit mematikan atau tidak harus dilihat dari besarnya angka kematian yang disebabkannya.
Tetapi menggunakan data absolut dan tanpa perbandingan bisa kehilangan perspektif. Karena itu, seberapa mematikan suatu penyakit harus juga dilihat dari total penderita serta dibandingkan dengan penyakit lain.
Dari perbandingan total angka kematian relatif terhadap total penderita/terinfeksi, dan tingkat kematian penyakit serius yang lain, Covid tidak dapat bertahan dari skrunitas seperti saya sudah uraikan terdahulu.
Covid memakan korban jiwa. Tetapi tidak seganas yang digambarkan dibanding beberapa penyakit lain.
- Tetapi Covid tetap tidak bisa diperbandingkan, bukan?
Bila tidak ada konsekuensi beban sosial, ekonomi, dan psikologis dari kebijakan Covid, maka tidak perlu melakukan perbandingan. Kita bisa mengambil kebijakan paling drastis sekalipun untuk mengendalikannya. Tetapi kita hidup di dunia yang penuh kelangkaan.
Sumberdaya ekonomi terbatas. Beban sosial dan psikologis juga ada batasannya.
Di sinilah perspektif perbandingan itu mutlak diperlukan.
- Apakah tepat kebijakan Covid didasarkan semata-mata model epidemiologi dan rekomendasi birokrat/pakar kesehatan umum?
Sangat keliru. Epidemiologist dan birokrat kesehatan umum melihat Covid hanya dari satu sisi semata-mata (meski tetap keliru). Yakni bahayanya.
Anthony Fauci di AS adalah epitome daripada kelompok ini. Buat dia, lockdown kehidupan juga tidak masalah untuk menurunkan bahaya Covid.
Ini mirip pepatah bahwa ketika palu satu-satunya senjata yang Anda punya, maka segala persoalan bagi Anda kelihatan seperti paku.
Ekonom melihat Covid lebih menyeluruh, dan tetap dalam konteks dunia yang penuh kelangkaan.
Misalkan situasi berikut.
