Opini

Belajar dan Semangat Soekarno

Belajar dan Semangat Soekarno
Perpustakaan Umum Yorba Linda, California, USA.

Catatan Elwin Tobing,
Profesor ekonomi dan Presiden INADATA di Irvine, California
, AS.

PERPUSTAKAAN UMUM Kota Yorba Linda, California Selatan, saya sedang menulis Luki and Fani jilid 3.

Buku ini mengangkat tema Semangat Soekarno.

Buku seri Luki and Fani dirancang membangun karakter, wawasan kebangsaan, dan pengetahuan anak-anak Indonesia.

Kisah Luki, Fani, serta tokoh-tokoh lainnya menjadi media pembelajaran mereka.

Buku ini ditulis dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris.

Jilid pertama membahas Pancasila, jilid kedua mengupas Mental Juara.

Semangat Soekarno lahir dari dahaga akan ilmu.

Ia membaca, bernalar, dan terus belajar.

Kecintaan serta kebiasaan membacanya yang luar biasa adalah faktor utama yang menjadikannya sosok besar.

Ia tumbuh menjadi pemimpin percaya diri, berpengetahuan luas, dan akhirnya menjadi Bapak Pendiri Indonesia.

Itulah teladan yang harus diikuti, bukan hanya oleh anak-anak, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia.

Sayangnya, budaya membaca masih sangat lemah, bahkan di kalangan pemimpin.

Saya yakin hanya 1–2 persen dari mereka yang benar-benar gemar membaca.

Padahal, membaca tidak hanya menambah ilmu.

Membaca juga mengajarkan kerendahan hati.

Ketika seseorang membaca, ia sadar ada banyak hal yang belum ia ketahui.

Beberapa tahun lalu, saya menjalani pendidikan eksekutif di Harvard University.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara