Ketika pemimpin merasa sudah tahu segalanya dan tidak merasa perlu lagi membaca dan belajar.
Ia tidak akan membawa perubahan bagi daerah dan rakyatnya.
Jika Soekarno melihat ini, mungkin ia akan menangis di kuburnya.
Bangsa yang ia perjuangkan justru malas membaca dan belajar.
Sayangnya, kondisi ini sudah menjadi budaya.
Diperlukan satu atau dua generasi untuk mengubahnya.
Karena itu, saya menggagas gerakan Reading for the Future.
Gerakan ini bertujuan menanamkan budaya membaca sejak dini.
Generasi berikutnya harus lebih baik dari sekarang.
Salah satu langkahnya adalah menulis dan mendonasikan buku-buku bermanfaat bagi anak-anak Indonesia, termasuk seri Luki and Fani.
Inilah harta karun sejati dari Amerika: pengetahuan.
Sesuatu yang tidak bisa lenyap akibat fluktuasi ekonomi atau dikorupsi.
Ilmu adalah modal utama yang bisa diandalkan di mana saja.
Kecuali di negeri yang masih terjebak dalam mental dan praktik KKN.
(***)
