Di sana, saya bertemu seorang manajer kota dari Arizona.
Dalam percakapan kami, ia bercerita bahwa akhir pekannya selalu diisi dengan membaca berbagai genre.
“I love reading,” katanya.
Di Amerika, kecintaan terhadap membaca adalah hal yang umum.
Itulah sebabnya Perpustakaan Umum Yorba Linda dibangun dengan biaya sekitar $50 juta (Rp800 miliar) pada tahun 2020 dengan luas total 5400 meter persegi.
Padahal, kota ini hanya berpenduduk kurang dari 70 ribu jiwa.
Bekas wali kotanya, yang juga teman keluarga saya mengatakan bahwa perpustakaan ini dirancang untuk 50 tahun ke depan.
Perpustakaan lama yang sudah berdiri selama setengah abad memang perlu digantikan.
Di negara maju, perpustakaan adalah pusat pengetahuan masyarakat.
Kemajuan bangsa tidak didorong oleh mistis atau KKN, melainkan oleh ilmu dan pembelajaran.
Hal inilah yang mendorong Soekarno untuk maju dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Bangsa Indonesia seharusnya dahaga belajar dan membaca agar lebih cerdas.
Dengan kecerdasan, kita bisa maju.
Namun, kenyataannya kita masih cenderung malas belajar.
Suatu ketika, saya mengundang seorang pimpinan daerah untuk mengikuti pelatihan belajar.
Sama seperti manajer kota di Arizona tersebut, saya pikir ia juga akan antusias belajar.
Tetapi, ia menolak dengan alasan sudah cukup belajar.
Itulah tanda di mana kemajuan berhenti.
