Mempelajari dinamika di akar rumput adalah kesukaan LD.
Tak jarang, banyak temuan dia dapati.
Mulai dari keluhan, aspirasi, hingga pembangunan yang mendesak.
“Kalau hanya mengikuti irama di dalam kantor DPRD. Kapan rakyat bisa berubah. Mereka membutuhkan aksi dan faedah,” tegas LD.
Asyiknya, LD tidak mau persoalan menunggu lama.
Ia selalu menawarkan solusi saat itu juga.
Bahkan di hari libur pun, ia pernah memaksa jajaran eksekutif turun tangan segera.
“Saya tidak pilih-pilih. Ke mana mau, ke situ pergi,” bebernya.

Saat berbaur dengan masyarakat, LD tidak langsung memperkenalkan diri sebagai anggota dewan.
“Kenalan dengan warga dulu, gali informasi dan cari akar masalahnya. Kemudian hubungi kepala lingkungan dan dinas terkait. Sederhana sebenarnya,” bebernya.
Pelayanan yang dilakukan LD terlihat mudah.
Tapi sebenarnya memerlukan kesabaran dan iklhas.
Karena aksinya ini, LD mengaku sering disodorkan rupiah yang tidak sedikit.
Namun karena niat awal sudah menjadi pondasi kuat, LD bisa menolak godaan itu.
Sekali lagi, Lucky menegaskan tabiatnya tersebut hanya panggilan hati.
“Tidak ada tujuan apapun, apalagi kaitannya dengan politik. Selama masih mendapat amanah, saya lakukan terus seperti ini,” ungkapnya.

Antropolog Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fispol) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Drs Mahyudin Damis MHum salut dengan sepakterjang Lucky Datau.
Bahkan ‘Penjaga Manado’ adalah julukan dari Mahyudin Damis
