Mitigasi bencana, lanjut Joune, telah disiapkan Pemkab Minut demi mengurangi dampak bencana hidrometeorologi seperti genangan air, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.
Joune bilang, sosialisasi dan edukasi peringatan dini bencana menggunakan media elektronik atau media sosial intens dilakukan.
“Kami selalu mengoordinasikan langkah antisipasi dengan Tim Reaksi Cepat (TRC) multi sektor guna pemetaan serta pengambilan tindakan cepat, efektif, dan efisien terhadap bencana,” jelas Joune saat dihubungi BeritaManado.com, Jumat.
Jika terjadi bencana, Joune mengingatkan untuk segera menghubungi call center 112 atau 117 yang bebas biaya alias gratis.
Joune berharap warga mengenali perubahan cuaca dan kondisi alam lingkungan sekitar guna mengurangi dampak yang ditimbulkan bila terjadi bencana alam tiba tiba.
Perhatian khusus diberikan Joune bagi masyarakat yang bermukim di area bantaran sungai, pinggiran pantai dan dataran yang berdekatan dengan tebing.
“Terus waspada dan berkoordinasi dengan aparatur desa jika membutuhkan penanganan,” pesannya.
Bagi para nelayan, Joune berpesan lebih memperhatikan keadaan cuaca dan tinggi gelombang apabila akan melaut.
Begitu pun untuk petani yang melakukan aktifitas di sawah agar segera pulang agar terhindar dari petir dan angin kencang.
“Bagi yang bermukim di daerah lereng/tebing, agar lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi tanah longsor. Jika terjadi angin kencang segera matikan aliran listrik (melepas barangbarang elektronik dari colokan), hindari berteduh dibawah pohon, dan bangunan yang berpotensi roboh,” ujarnya.
Hati-hati saat berkendara, menurut Joune, harus terus dilakukan.
Apalagi dengan kondisi jalan yang licin karena hujan.
“Kita siap untuk selamat, budayakan sadar bencana, kita jaga alam dan alam jaga kita,” tandasnya.
(Alfrits Semen)
