
Bitung – Aksi pemadaman lampu yang dilakukan PLN Jumat (25/4/2014) malam lalu nyaris menggut nyawa Adi (20) salah satu warga Kelurahan Bitung Timur Kompleks Sari Kelapa Kecamatan Maesa. Pasalnya, Adi yang sementara menjalani perawatan di RSUD Manembo-nembo karena penyakit paru-paru syok dan muntah darah karena lampu tiba-tiba padam.
Menurut saksi mata, Erni yang dirawat bersama Adi di ruang Sakura, malam itu mereka semua sementara beristrahat namun tiba-tiba lampu padam sehingga ruangan menjadi gelap gulita. Menyadari ruangan gelap, Adi langsung terbangun dan kaget sehingga mengakibatkan dirinya panik hingga muntah darah.
“Dokter dan perawat berusaha memberikan pertolongan, tapi mengingat kondisi ruangan dalam keadaan gelap sehingga aksi pertolongan tak maksimal,” kata Erni, Minggu (27/4/2014).
Dengan hanya menggunakan alat penerangan senter, upaya menyelematkan nyawa Adi berhasil. “Hampir saja Adi terlambat ditangani karena suasana ruangan gelap,” katanya.
Kejadian itu tak dipungkiri Direktur RSUD Menambo-nembo, dr Jeanet Watuna. Ia menyatakan, pihaknya tak dapat memberikan layanan maksimal ketika PLN melakukan pemadaman seperti kejadian yang menimpa Adi.
“Tapi bersyukur pasien tersebut sudah membaik dan kini hanya menjalani rawat jalan,” kata Watuna.
Watuna menjelaskan, soal pemadaman lampu setiap hari oleh PLN pihaknya hanya bisa menyiapkan tenaga genset berkapasitas kecil untuk menerangi area urgen yakni Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ruang ICCU pada siang hari. Sedangkan untuk pemadaman listrik malam hari, diantisipasi melalui genset berkapasitas besar menjaga tindakan diruang operasi.
“Jadi otomatis, tenaga geset yang kami siapkan tak mampu menerangi semua ruangan karena tenaganya memang hanya cukup untuk beberapa ruangan saja dan kita prioritaskan di ruangan yang urgent,” katanya.
Ia sendiri memohon maaf kepada pasien dan masyarakat jika malam hari kondisi ruangan menjadi gelap ketika pemadaman dilakukan PLN karena tenaga pembangkit yang tersedia tak mencukupi.(abinenobm)

Bagi PLN nyawa manusia, barang elektronik, rumah terbakar itu tidak ada harganya, makanya mereka cuek2 saja. Pemkot saja mereka cuekin, malah dibilang sama PLN “mengada-ada” (Walikota Bitung). Mesin PLN yang rusak itu adalah kesalahan dan kelalaian manusia semata, bukan karena alam. Kenapa rakyat yang harus menanggung dan membayarnya? PLN setidaknya harus mengkompensasi pelanggan2nya di tagihan bulan berikutnya!