
Penulis: Tim Redaksi
Pergeseran besar sedang terjadi di pasar kerja Indonesia. Bukan didorong resesi, bukan pula oleh krisis ekonomi semata — melainkan oleh percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI = Artificial Intelligence) yang kian masif di berbagai sektor industri.
Tahun 2026 menjadi titik di mana tanda-tanda itu semakin tak bisa diabaikan.
Akademisi sekaligus AI data analyst dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Prof. Dr. Fabian Manoppo, menilai hampir seluruh profesi berpotensi terdampak perkembangan AI, meski tingkat pengambilalihannya berbeda-beda.
“Sebagian besar pekerjaan sebenarnya bisa diambil alih AI, mulai dari sekitar 25 persen hingga bahkan mendekati 100 persen, tergantung jenis profesinya. Yang masih sulit digantikan sepenuhnya adalah pekerjaan yang membutuhkan kontrol manusia, kompetensi khusus, serta praktik atau tindakan langsung, seperti dokter dan profesi teknis tertentu,” ujarnya.
Lantas, profesi apa saja yang paling rentan?
Merujuk pada laporan World Economic Forum (Future of Jobs 2025), kajian Microsoft tentang dampak AI terhadap pasar kerja, serta berbagai analisis ketenagakerjaan global dan nasional, berikut 10 profesi yang paling banyak disebut berisiko tergerus otomasi AI.
1. Operator Data Entry dan Staf Administrasi Umum
Pekerjaan yang tumpuannya adalah memasukkan angka, menyortir berkas, dan mencatat jadwal kini bisa ditangani sistem AI dengan akurasi dan kecepatan yang jauh melampaui kemampuan manusia.
Di banyak kantor pemerintah daerah dan perusahaan swasta di Indonesia, posisi ini perlahan mulai dikonsolidasi ke dalam satu sistem terintegrasi. Staf yang tersisa umumnya beralih peran menjadi pengawas sistem, bukan lagi pelaksana input manual.
2. Agen Customer Service dan Telemarketer
Layanan pelanggan tingkat pertama — menjawab pertanyaan umum, melacak status pesanan, memproses keluhan standar — sudah berpindah tangan ke chatbot berbasis AI di hampir semua perusahaan e-commerce dan perbankan besar Indonesia.
Kemampuan sistem ini untuk merespons 24 jam tanpa jeda menjadikannya jauh lebih ekonomis dibanding mempertahankan tim call center berukuran besar.
3. Staf Pembukuan dan Akuntansi Dasar
Pencatatan transaksi, rekonsiliasi saldo, penghitungan gaji, dan penyusunan laporan keuangan standar kini bisa dilakukan software AI dalam hitungan menit.
Perusahaan-perusahaan di Indonesia semakin mengandalkan sistem akuntansi otomatis yang meminimalkan intervensi manusia untuk tugas-tugas rutin.
Akuntan yang bertahan adalah mereka yang bergerak ke ranah analisis dan konsultasi strategis.
4. Kasir dan Petugas Pembayaran Toko
Perpindahan ke sistem pembayaran nirsentuh sudah berlangsung cepat di kota-kota besar Indonesia.
Mesin self-checkout, kios pembayaran mandiri, dan dompet digital telah mengubah fungsi kasir secara fundamental.
Di beberapa gerai ritel modern, satu pengawas kini mengelola empat hingga enam mesin yang sebelumnya membutuhkan jumlah kasir yang sama.
5. Jurnalis dan Editor Konten Rutin
Penulisan berita berbasis data — laporan cuaca, ringkasan bursa saham, hasil pertandingan olahraga — sudah diotomasi oleh beberapa media internasional dan mulai merambah redaksi di Indonesia.
