Korban yang mengalami emosi kemudian melakukan hal-hal yang diarahkan oleh pelaku.
Dalam kasus seperti ini, Hengki mengungkapkan ada pola komunikasi yang dilakukan oleh pelaku.
Pelaku menggunakan kalimat-kalimat yang masuk ke pikiran korban. Cara ini sering berhasil membuat korban tertipu karena pikiran kritis korban tidak aktif.
Menghadapi adanya kemungkinan ancaman tersebut, Hengki memberikan saran agar terhindar dari penipuan transaksi online.
Cara yang dilakukan adalah membangun pikiran kritis dengan lima cara, sebagai berikut:
Pertama, menerima telepon dengan telinga kiri. Hal ini sesuai dengan ajaran agama bahwa kebaikan masuk lewat telinga kanan dan keburukan masuk lewat telinga kiri.
Dengan mendengarkan hal asing melalui telinga kiri, maka akan membuat kita waspada terhadap informasi tersebut.
Selain itu, maka telinga kanan tetap akan siap dan waspada terhadap “bisikan” baik.
Kedua, saat diarahkan oleh seseorang melalui telepon, jangan langsung dijawab tetapi ambil waktu untuk berpikir.
Saat disuruh melakukan sesuatu, diamlah selama 5-10 detik untuk berpikir dengan tenang dan tidak tergesa-gesa memutuskan atau melakukan yang diarahkan penelepon.
Ketiga, berpikirlah pada goals (tujuan). Saat menerima telepon dan mendengarkan pembicaraan, maka bertanyalah pada diri sendiri tentang apa maksud dan tujuan dari pembicaraan di telepon tersebut.
Keempat, hindari untuk hanyut dalam kondisi tertentu seperti yang disampaikan oleh penelepon.
Saat mendengarkan penjelasan penelepon, gali fakta-fakta dan tetap aktif berpikir.
Kelima, waspada terhadap nomor asing yang menelepon. Saat menerima telepon, tegakkan badan, jika memungkinkan, berdirilah.
“Kondisi itu akan membuat kita lebih waspada daripada menelepon sambil duduk, apalagi rebahan santai, maupun sambil mengemudi,” kata Hengki.
(***/srisurya)
