Turis luar negeri yang ke Sulut hampir 200 ribu orang pada 2019. Bandingkan tahun 2018 yang mencapai 40 ribu.
Mampu menstabilkan harga kopra dan cengkih; Mampu mempertahankan indeks pembangunan manusia Sulut di angka 72.
Mengcover jaminan sosial bagi 35.000 pekerja lintas agama dari Kristen, Islam, Hindu, Katolik, Budha dan Kong Hu Chu.
Pengerjaan Jalan Tol Manado Bitung (sudah selesai).
Pelebaran Proyek Manado outer ringroad.
Pembangunan Bendungan Kuwil Kawangkoan, Minahasa Utara.
Membangun Bendungan Lolak untuk mengairi lumbung beras Sulut di Bolmong.
Menghadirkan proyek perluasan Bandara Sam Ratulangi.
Pengembangan Pelabuhan Bitung.
Menghadirkan Rumah Sakit Mata Provinsi Sulut.
Menghadirkan Kanwil Bea Cukai Sulbagtara di Sulut. Sebelumnya Kanwil Bea Cukai hanya ada di Makassar.
Membuka rute penerbangan internasional ke Bandara Sam Ratulangi, Manado.
Pertumbuhan kinerja di sektor pariwisata Sulut naik hingga 600 persen. Atas prestasi tersebut, Dalam 4 tahun kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sulut meningkat 6 kali lipat.
Keberhasilannya menjadikan Manado sebagai hub kargo Indonesia Timur kegiatan ekspor ke Jepang. Ini ditandai adanya penerbangan langsung dari Bandara Sam Ratulangi menuju tujuan ekspor produk2 Provinsi Sulut yakni Jepang (Direct Call Export), begitu juga pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) dari sekitar 2 juta menjadi 4 juta atau dua kali lipat, 200 persen.
Padahal di provinsi lain hanya sekitar 5 persen sampai 10 persen.
Mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Pulisan di Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, disamping Likupang telah ditetapkan sebagai salah satu Destinasi Super Prioritas (DSP), karena diyakini mampu mendongkrak industri pariwisata Indonesia di masa depan,dimana saat ini telah dan sedang dibangun berbagai fasilitas infra-struktur.
Mengirim SDM ke Tiongkok untuk mempelajari bahasa Tiongkok selama dua tahun.
Membangun tol hingga ke wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR).
