Opini

Noel adalah Kita!

Noel adalah Kita!
Mantan Wamenaker Immanuel Ebenezer atau akrab disapa Noel. (Ist)

WAMENAKER, yang akrab dipanggil Noel, terjerat kasus korupsi dan pemerasan.

Semua langsung heboh. Mengejek. Mencibir. Menghujat. Bisa dimengerti. Korupsi makin sarat. Sudah tahap mengkhawatirkan. Sudah terjerat. Bahkan sudah sampai titik point of no return.

Tapi tunggu. Noel bukan sekadar “oknum.” Dia bukan lahir dari ruang hampa. Noel adalah bagian dari sistem nilai dan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat. Dia bukan hanya produk kekuasaan dan politik elit. Dia juga produk masyarakatnya sendiri.

Maka, ketika kita mencibir Noel, pertanyaannya: apakah korupsi hanya soal “mereka”? Jawabnya: tidak. Korupsi merasuk hampir ke semua bidang, semua lapisan. Bukan hanya korupsi uang. Tapi juga korupsi nilai.

Di sini letak tragedinya. Ada dua tragedi terbesar bangsa ini. Dan korupsi adalah buah pahit dari keduanya.

Tragedi pertama: kita tidak benar-benar mengenal diri kita sendiri. Sebagai bangsa. Sebagai individu. Kedengarannya kasar. Bahkan klise. Tapi setelah berinteraksi dengan hampir semua lapisan, dari jelata sampai elit, saya sampai pada satu kesimpulan pahit dan getir: manusia Indonesia kurang mengenal Indonesia. Atau lebih tepatnya: tidak tahu Indonesia.

Karena tidak tahu Indonesia, korupsi tak terasa sebagai beban moral. Ia justru berubah menjadi sistem nilai. Normal baru. Dari ruang rapat hingga meja makan. Dari proyek besar hingga urusan kecil.

Mahatma Gandhi pernah mengingatkan: “The world has enough for everyone’s need, but not enough for everyone’s greed.

Korupsi kita bukan sekadar soal serakah. Lebih dalam dari itu. Ia lahir dari tragedi tidak kenal diri. Tidak tahu akar. Tidak tahu jati diri. Dari ketidaktahuan itulah lahir sistem nilai yang keliru total. Salah kaprah yang jadi budaya.

Akhirnya, banyak orang justru ikut jadi bagian dari masalah. Memperburuk situasi. Bukan menjadi bagian solusi.

Maka, ketika kita mencibir koruptor, pertanyaan paling jujur adalah: Apakah saya bagian masalah, atau bagian solusi untuk Indonesia?

Sedihnya, dari observasi dan pengalaman saya, hanya sekitar 1% insan Indonesia yang benar-benar bagian dari solusi. Itu pun mungkin angka berlebihan. Overestimate. Padahal, dalam semangat Pareto, bangsa ini butuh 20% yang jadi solusi agar bisa maju.

Perjalanan Indonesia masih panjang. Sangat panjang dan terjal. Dan tanpa 20% itu, ataupun 10%, bangsa ini hanya akan berjalan di tempat. Atau malah mundur sambil pura-pura heran setiap kali lahir “Noel-Noel” baru.

Indonesia tak kekurangan Noel. Yang sangat kurang adalah yang mau dan berani jadi solusi.

(Elwin Tobing, Irvine, USA)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara