Profil

John Lie: Great Smuggler With The Bibble (bagian-1)

Sang Penyelundup hebat yang selalu membawa Alkitab. (foto: ist)
Sang Penyelundup hebat yang selalu membawa Alkitab. (foto: ist)

DALAM setiap aksinya dia tidak penah tertangkap musuh. Banyak yang berpendapat, John Lie selamat karena imannya. Dia adalah pahlawan nasional berdarah Tionghoa pertama yang lahir di Manado.

Nama kewarganegaraannyanya Jahja Daniel Dharma, namun lebih akrab dengan panggilan John Lie. Dia lahir di Manado, 9 Maret 1911 dari pasangan Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio.

Di era perang kemerdekaan, John membuat penyelundup bak profesi mulia. Namun dalam hal ini, dia tidak menyelundupkan sesuatu yang merugikan negaranya. John mengangkut hasil bumi dari Indonesia dan menukarnya dengan senjata yang nantinya digunakan pejuang Indonesia untuk memerangi penjajah.

Dia memulai karier sebagai mualim di perusahan pelayaran milik Belanda pada 1952. Tiga tahun kemudian berbekal pengalaman kemaritiman dari sejumlah negara yang pernah dikunjungi, dia masuk Angkatan Laut Indonesia.

Tekadnya satu, “Agar kami dapat berjuang, berbakti bersama kaum pejuang di Indonesia, untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman kami selama ini di medan kelautan,” tulis John Lie. John meminta ditempatkan di Pelabuhan Cilacap. Maka mulailah misi-misi yang membuat namanya melegenda.

Dia adalah kapten PPB 31 LB, kapal cepat berbadan kecil yang paling sering menembus blokade Belanda. John Lie bolak-balik pulau Sumatera, Singapura dan Malaya untuk mengangkut persenjataan. Sekali dia tertangkap di Singapura, namun akhirnya dibebaskan. Setiap kali beraksi, John Lie mengemudikan kapalnya yang diberi nama The Outlaw dengan 1 tangan, tangan lainnya menggenggam Alkitab.

Roy Rowan, wartawan majalah Life pernah mengabadikan aksi-aksi heroik John Lie lewat sebuah tulisan berjudul Guns And Bibbles Are Smuggled to Indonesia. Roy menjuluki pelaut ini The Great Smuggler with the Bibble, penyelundup hebat dengan Alkitab, seperti halnya BBC London menyebut kapal John, The Black Speed Boat.

Iman pula yang menyelamatkan John. Pernah ketika menuju ke Labuan Bilik di Sumatera bagian Timur, The Outlaw dikejar kapal patroli dan kepergok pesawat Belanda. Namun tak ada kontak senjata saat itu, pesawat Belanda yang sudah nyata-nyata melihat sasarannya, tiba-tiba berbalik arah dan tidak pernah membuang tembakan. Setidaknya ada keselamatan dalam paling kurang 15 kali pelayaran maut yang dilakukan sang penyelundup dengan Alkitabnya. (*/ady/bersambung)

Baca juga:

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara