Angka-angka itu memperlihatkan satu hal sederhana: pariwisata Minahasa Utara kini benar-benar menjadi mesin ekonomi rakyat.
Di berbagai pelosok Minahasa Utara, geliat komunitas pariwisata berbasis lingkungan semakin terasa.
Di Wori, masyarakat mulai mengelola wisata bahari dengan konsep konservasi terumbu karang.
Di Lihunu, program pelatihan pemandu lokal digerakkan agar warga menjadi tuan rumah di tanah sendiri.
Dan di Likupang Timur, pelaku UMKM pariwisata kini berjejaring lewat platform digital lokal.
Semua bergerak menuju satu arah: keberlanjutan.
“Kami tidak ingin hanya menjadi destinasi yang indah. Kami ingin menjadi daerah yang tumbuh, sejahtera, dan menjaga alamnya,” ujar Joune Ganda dalam pernyataannya.
“Penghargaan ini adalah tangga awal menuju Minahasa Utara Hebat & Sejahtera.”
Pengakuan nasional ini menegaskan posisi Minahasa Utara sebagai daerah yang mampu mengelola pariwisata secara bijak dan berdampak.
Lebih jauh lagi, penghargaan ini memperkuat kredibilitas Minahasa Utara sebagai magnet investasi pariwisata berkelanjutan, selaras dengan arah Indonesia Emas 2045 dan SDGs 2030.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, Minahasa Utara perlahan menulis kisah baru pariwisata Indonesia Timur: pariwisata yang tidak hanya indah dilihat, tapi juga terasa manfaatnya.
(***/Alfrits Semen)
