Opini

Mengenal Balafon Musik Tradisional Afrika

Keterampilan yang dibutuhkan untuk membuat bahkan memainkan alat musik ini sangat penting dan menjadi vital.

Alat musik ini sering kali dibuat oleh para pengrajin yang tidak memiliki perlengkapan dalam pertukangan, sehingga tuts-tutsnya dipahat dengan ‘pisau besar’ yang tersedia.

Selanjutnya, tuts-tuts tersebut kemudian diikatkan pada bingkai dengan seutas tali di setiap sisinya.

Kemudian, setelah bingkai dibuat, alat musik ini akan tampak menyerupai gambang, dan bunyi kayu ini diperkuat dengan tambahan resonator yang berfungsi sebagai penguat suara. (https://www.gambia.co.uk/blog/the-story-of-the-balafon-an-ancient-west-african-musical-instrument).

Namun dari pengertian ini, salah satu sumber yang mencatat dengan ketat dan terukur tentang Balafon adalah riset dari Hugo Zemp (2006).

Dalam risetnya dikatakan bahwa Balafon, demikian sebutannya dalam bahasa Prancis dan Inggris, merupakan instrumen khas Senufo dari Pantai Gading, adalah gambang berbingkai dengan resonator labu.

Orang Pantai Gading menyebut bahwa tanah mereka sebagai “negara balafon”. Di sisi yang sama, peneliti Gourlay and Lucy Duran (1984) menulis bahwa istilah Balafon (mungkin) diperkenalkan oleh para pelancong Eropa, yang berasal “ari akar kata Yunani Phono.

Namun etimologi yang paling banyak diterima adalah dalam bahasa Mande, Bala “gambang” ditambah fo “berbicara, memainkan alat musik.”

Dalam tradisi musik Balafon, sebuah karya musik jegele (salah satu jenis musik dalam komposisi Balafon), pertama-tama adalah ‘kata-kata’ yang diterjemahkan ke dalam musik dengan alat musik; tidak ada karya musik seperti itu tanpa sebuah teks.

Itulah sebabnya, ketika ingin menggubah sebuah karya jegele, harus dimulai dengan menemukan bagian sastranya, yang mencakup teks, makna dan pesan yang ingin disampaikan dengan mengubah kata-kata itu menjadi musik, berdasarkan nada dan struktur ritme dari bahasa. (Coulibaly, 1982:43).

Demikian juga, ketika memainkan gambang, dalam praktek komunitas Balafon Senufo, diekspresikan dengan mengatakan sesuatu dengan berpidato (syerejo).

Konon, fenomena ini menjadi ciri khas semua ansambel gambang, yakni Ekspresi teks melalui musik, di mana hal itu menurut komunitas Senufo memiliki makna.

Dengan cara ini, maka adalah sebuah hal yang mungkin kita mengirimkan, pesan teks yang sebenarnya, yang tidak dinyanyikan melainkan dimainkan dalam musik. (Forster 1987:29).

Akhirnya, dari fakta apa itu Balafon, bagaimana cara memainkan, dan sedikit historisitasnya, penulis menemukan, bahwa Balafon ternyata seirama, untuk mengatakan sejenis dengan Kolintang yang dimiliki oleh Minahasa, Indonesia.

Ketika awal tumbuh dan berkembangnya Kolintang, kita sudah mengenal bahwa Kolintang adalah musik ritual, di mana musik ini selalu dimainkan ketika di waktu-waktu suci.

Di sisi yang sama, maka budaya musik kolintang pada akhirnya sejalan dengan budaya musik Balafon di Afrika Barat tersebut.

Catatan Ambrosius M Loho M Fil,
Pegiat Musik Tradisi, Penulis, dan Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Katolik De La Salle Manado
.

(***/jenlywenur)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara