Jenazah disemayamkan di Kementerian Luar Negeri sebelum dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata pada Senin, 9 Februari 2026.
Agus Widjojo lahir di tengah keluarga militer yang kental, sebagai putra sulung dari Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo.
Masa kecilnya berubah drastis saat peristiwa kelam G30S/PKI pecah, dimana sang ayah menjadi salah satu korban penculikan dan pembunuhan di Lubang Buaya.
Tragedi memilukan ini merupakan luka sejarah yang sangat mendalam bagi seorang anak, namun, latar belakang keluarga yang penuh disiplin dan nilai-nilai luhur justru membentuk mentalitas Agus menjadi pribadi yang tangguh, kuat, dan bervisi luas.
Meniti karier di dunia militer dengan cemerlang, Agus Widjojo berhasil mencapai pangkat jenderal bintang tiga dengan reputasi sebagai intelektual TNI yang visioner.
Beliau menempuh pendidikan di berbagai institusi bergengsi internasional, yang memperkaya sudut pandangnya terhadap perdamaian dan rekonsiliasi.
Sepanjang pengabdiannya, beliau memegang posisi strategis, mulai dari jajaran komando hingga menjabat sebagai Gubernur Lemhannas.
Di setiap jabatan, ia selalu mengedepankan pendekatan akademis dan rasionalitas dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa yang sangat kompleks dan penuh tantangan.
Satu hal yang paling mengagumkan dari sosok beliau adalah sikapnya terhadap masa lalu yang pahit.
Meski menyandang status sebagai putra pahlawan revolusi, saat menjabat jenderal senior, beliau justru memilih jalan rekonsiliasi daripada dendam.
Agus Widjojo secara terbuka menyuarakan pentingnya memaafkan dan berdialog dengan anak-cucu dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik masa lalu.
Baginya, luka sejarah tidak boleh menjadi beban abadi yang menghambat kemajuan bangsa, melainkan harus diselesaikan melalui kejujuran dan rasa kemanusiaan.
Alasan utama di balik sikap humanis tersebut adalah keyakinannya bahwa masa depan bangsa jauh lebih penting daripada memelihara perselisihan masa lalu.
Beliau percaya bahwa pengampunan adalah bentuk kekuatan tertinggi seorang ksatria, bukan sebuah kelemahan.
Hingga hari wafatnya saat menjalankan tugas sebagai Duta Besar di Filipina, prinsip humanisme militer ini tetap ia pegang teguh.
Kepergiannya meninggalkan teladan tentang bagaimana seorang prajurit mampu melampaui ego pribadi demi perdamaian yang lebih besar bagi seluruh rakyat Indonesia.
