
Jakarta, BeritaManado.com — Berita duka selalu datang mengejutkan, menyisakan kekosongan yang mendalam bagi mereka yang ditinggalkan.
Kepergian Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo membuat Senator DR. Maya Rumantir terpaku dalam kesedihan yang tak terlukiskan.
Kenangan manis masih membekas jelas, terutama saat beliau baru seminggu yang lalu mengirimkan pesan melalui seorang jurnalis.
Almarhum menyampaikan kerinduan untuk berbincang ringan sembari berbuka puasa bersama, mendiskusikan masa depan negara yang selalu menjadi fokus pemikiran jernihnya hingga akhir hayat.
Almarhum dikenal sebagai sosok patriot sejati yang memberikan seluruh hidupnya untuk pengabdian kepada bangsa dan negara tercinta.
Tatapan matanya yang dalam serta senyum khasnya memancarkan aura kebijaksanaan seorang militer intelektual yang sangat langka.
Beliau bukan sekadar prajurit di medan laga, melainkan pemikir ulung yang layak dicatat dalam lembaran sejarah emas perjalanan bangsa Indonesia.
Kehadirannya selalu memberikan bobot pada setiap diskusi kenegaraan, menjembatani disiplin militer dengan fleksibilitas pemikiran demokratis yang modern.
Saat saya memimpin rombongan DPD RI dalam kapasitas sebagai Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen ke Manila, sambutan hangat almarhum sungguh luar biasa. Sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh, beliau menyambut delegasi dengan keramahan yang menyentuh hati.
Suasana formal kedutaan seketika berubah menjadi hangat seperti di rumah sendiri berkat kerendahan hati beliau.
Pengalaman tersebut menjadi bukti nyata betapa almarhum sangat menghargai hubungan kemanusiaan dan kerjasama antar lembaga negara demi kepentingan nasional.
Selama menjabat sebagai Gubernur Lemhannas (2016–2022), beliau mentransformasi lembaga tersebut menjadi kawah candradimuka pemikiran strategis nasional, menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.
Soal ini saya satu visi dengan almarhum, bahwa sumber daya manusia yang mumpuni akan memecahkan banyak persoalan bangsa.
Kini, sang putra terbaik telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta, meninggalkan warisan keteladanan yang tak ternilai harganya bagi generasi penerus.
Kepada keluarga besar yang ditinggalkan, kiranya kekuatan dan penghiburan sejati senantiasa menyertai dalam melewati masa sulit ini.
Semoga segala amal ibadah serta dedikasi tanpa pamrih almarhum diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
Selamat jalan, Jenderal. Meski ragamu telah tiada, semangat patriotisme dan kejernihan pikiranmu akan tetap abadi menginspirasi langkah kaki kami membangun masa depan Indonesia.
Beliau wafat pada hari Minggu, 8 Februari 2026 sekitar pukul 20.15 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta dalam usia 78 tahun.
