
Manado, BeritaManado.com — Beragam cara dilakukan pemerintah agar publik mematuhi kebijakan ‘di rumah aja’ demi menekan penyebaran virus Covid-19.
Kali ini, ‘Gerakan Semesta Berbasis Masjid’ juga ditawarkan Koordinator Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial LPPM UNSRAT Manado, Dr dr Taufiq Pasiak, MKes MPd.
Ketua Dewan Pakar DMI Sulut ini mengklaim pendekatan Komunitas Berbasis Masjid (KBM) adalah salah satu cara non medis dalam menghambat pandemi global tersebut.
Taufiq Pasiak menjelaskan, KBM merupakan komunitas yang ditawarkan untuk dibentuk oleh jemaah sebuah masjid demi kepentingan membantu perawatan Orang Dalam Pemantauan (ODP), tentunya dengan menjadikan Masjid sebagai home base.
“Dengan demikian, fungsi Masjid tidak sekadar tempat ibadah dan ritual, tetapi sebagai sarana sosial kemasyarakatan,” katanya.
Menurut Taufiq, Masjid adalah bangunan di luar rumah yang secara psikologis memberikan rasa aman karena menjadi tempat berkumpul komunitas manusia homogen dan berada dalam jangkaun fisik dan spasial keluarga.

“Sehingga perlu dipikirkan untuk mempersiapkan Masjid sebagai tempat isolasi mandiri dari jamaah Masjid yang ODP selama 14-21 hari,” sarannya.
Caranya, lanjut Taufiq, dengan menyiapkan satu ruang Masjid sebagai tempat isolasi.
Ruang tersebut ditata sedemikian rupa sehingga sirkulasi udara berlangsung baik dan cukup dengan sinar matahari.
Selain itu, KBM dapat merencanakan program bantuan kebutuhan harian jamaah.
Bantuan diupayakan secara sistematik dari pemerintah, dermawan atau jamaah yang mampu.
“Banyak hal yang bisa dilakukan termasuk dalam upaya identifikasi jamaah yang pernah bepergiaan ke daerah epidemik, sekaligus meminta puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat untuk menjadi pengawas atau penasihat dalam urusan medis,” jelasnya.
Ia menambahkan, dengan peran Masjid tersebut maka ketahanan iman menjadi pilar penting menghadapi infeksi virus Corona.
Apalagi jika dibarengi pengetahuan kesehatan yang memadai.
“Dengan demikian, kombinasi kedua hal ini tidak akan melahirkan kepanikan, namun justru membentuk mental manusia dalam menghadapi penularan virus corona,” tandasnya.
(Alfrits Semen)
