Berita Utama

Pesona Hiper-Realitas

Pesona Hiper-Realitas
Pesona Hiper-Realitas

Oleh: Taufiq Pasiak
Ilmuwan Otak

Kita pernah melihat seorang tokoh yang tampil anggun, tutur katanya lembut, senyumnya ramah, dan gaya hidupnya sederhana—memakai sepatu kain, menyapa penjaga parkir, dan suka mengunggah foto saat makan di warung pinggir jalan.

Di mata publik, ia teladan: pemimpin yang membumi, bersih, dan tulus. Tapi di balik layar, ia memperlakukan jabatan seperti ladang pribadi, memperdagangkan kewenangan dengan mulus, dan menjadikan loyalitas sebagai mata uang.

Ada pula pejabat yang rajin turun ke jalan saat bencana, memeluk korban, membantu evakuasi, seolah benar-benar manusia empatik—padahal semua itu sudah dijadwalkan oleh tim protokol dan didokumentasikan oleh lima kamera dari berbagai sudut.

Bahkan ada yang dikenal senang menyampaikan motivasi, menekankan pentingnya integritas dan keteladanan, tapi diam-diam gemar menyusun jaringan licik, mengatur tender, dan mengangkangi keadilan.

Di zaman ini, pencitraan telah menenggelamkan kebenaran. Kita tidak lagi dipimpin oleh nilai, tapi oleh kesan. Yang menang bukan yang jujur, tapi yang tampak meyakinkan.

Itulah mengapa kita tak bisa lagi menyamakan jabatan dengan kualitas.

Seseorang bisa tampil di pelantikan dengan jas mahal, senyum lebar, dan ucapan syukur di podium—padahal semua itu hanyalah puncak dari rangkaian lobi yang licin, bukan perjalanan moral yang lurus.

Di negeri ini, bukan rahasia bahwa orang yang curang, manipulatif, bahkan berkarakter buruk, bisa dengan mulus menduduki posisi penting asal piawai membangun kedekatan, membagi-bagi loyalitas, dan tahu kapan harus menyembah dan kapan harus menekan.

Sebaliknya, orang-orang jujur yang tak pandai menjilat, yang kaku terhadap kompromi, dan yang terlalu percaya bahwa kebaikan akan bicara dengan sendirinya, justru sering tersingkir.

Mereka bukan tak mampu, tapi tak punya saluran. Anda jangan heran, jika kadang justru yang naik adalah yang paling pandai bersiasat, bukan yang paling pantas.

Dalam struktur seperti ini, kejahatan tak hanya mendapat tempat—ia bisa dapat ruangan, tanda tangan, dan ucapan selamat.

Dalam dunia begini begini, fakta (nyata) tak lagi penting—yang penting adalah bagaimana sesuatu terlihat dan tampak.

Jean Baudrillard (1929-2007)—filsuf dan sosiolog Perancis—menyebutnya sebagai dunia simulakra: ketika representasi menggantikan kenyataan, dan bahkan menjadi lebih dipercaya daripada kenyataan itu sendiri.

Kita tak lagi peduli apakah seorang pemimpin benar-benar adil, asalkan ia terlihat adil. Kita tak lagi bertanya apakah seseorang kompeten, asalkan ia tampak meyakinkan di depan kamera.

Realitas telah dikebiri, digantikan oleh salinan dari salinan, hingga publik lebih percaya pada potongan video 30 detik ketimbang rekam jejak bertahun-tahun.

Inilah hiperrealitas politik: di mana yang palsu dirayakan, dan yang otentik justru dicurigai. Dan makin sering kebohongan tampil dengan pencahayaan yang tepat, makin kabur batas antara aktor dan pemimpin, antara panggung dan kebijakan, antara citra dan karakter.

Kita tak sedang memilih pemimpin—kita sedang memilih pemain terbaik dalam pertunjukan besar bernama kekuasaan.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara