Berita Utama

Pesona Hiper-Realitas

Kita menyambutnya dengan tepuk tangan, mengutip kalimat manisnya, dan menganggapnya harapan. Padahal kita sedang memeluk api, dan berharap tangan kita tidak terbakar.

Fenomena berikut yang paling menyakitkan: banyak dari kita tahu itu, tapi tetap pura-pura tidak tahu.

Kita melihat jabatan dibagi-bagi seperti kartu domino—siapa yang punya relasi, siapa yang bisa ditelepon tengah malam, siapa yang sanggup diam ketika kezaliman lewat di depan mata, siapa yang sanggup bayar.

Kita menyaksikan orang dengan rapor gelap diangkat menjadi pemimpin hanya karena ia tahu cara bermain, sementara orang jujur dan cakap—yang selama ini bekerja senyap dengan dedikasi—tersingkir karena tak pandai mengatur barisan pendukung. Lalu publik pun ikut menggampangkan: “Ya sudah lah, memang begitu sistemnya.”

Padahal di situlah kehancuran dimulai—ketika kejahatan diberi ruang hanya karena tampilannya rapi.

Namun, penting dicatat, tidak semua yang memegang jabatan berjalan di jalur culas. Masih ada—meskipun semakin sedikit—orang-orang bersih yang naik bukan karena lobi, tapi karena kerja nyata dan integritas yang tak bisa dibeli.

Celakanya, mereka ini sering sendirian, tercecer dalam sistem yang lebih sibuk menjaga stabilitas peran ketimbang menegakkan kualitas orang.

Dalam pandangan saya yang naif ini, jabatan bukan hanya urusan kekuasaan—ia adalah titik keputusan, tempat nasib banyak orang ditentukan secara diam-diam. Di tangan orang yang salah, satu keputusan bisa membuat anggaran bocor, pelayanan publik macet, anak-anak putus sekolah, harga obat naik, atau akses rakyat kecil tertutup rapat.

Itu bukan teori. Itu kenyataan yang kita lihat setiap hari.

Hemat saya, kebutuhan akan orang-orang berintegritas di posisi strategis bukan soal idealisme kosong. Ia soal efisiensi, keadilan yang terasa, dan kepercayaan publik yang tak terus-menerus dibakar oleh rasa muak.

Kita butuh pejabat yang, jika membuat kesalahan, setidaknya bukan karena niat jahat. Yang kalau salah langkah, itu karena keterbatasan, bukan kelicikan. Karena lebih baik dipimpin orang jujur yang lambat, daripada yang cepat tapi culas.

Kita tidak selalu butuh pemimpin yang jenius. Kita hanya butuh orang yang tidak merusak.

Karena sering kali, yang seharusnya mudah justru sengaja dibuat rumit—supaya bisa dimanfaatkan, dibagi-bagi, dan dikendalikan dari belakang layar.

(rds)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara