Tahuna – Ketua DPD KNPI Sangihe, Marvel Dicky Makagansa kepada beritamanado mengaku khawatir dengan nasib masyarakat terutama wilayah kepulauan dengan rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM).
“Sekarang saja di kepulauan harga bensin per liternya Rp 10.000,- bagaimana kalau naik,” katanya.
Makagansa yang juga merupakan Calon Legislatif nomor urut 2 dari PDIP dapil Nusa Utara ini menyatakan ketegasannya tak menyetujui kenaikan BBM.
Masyarakat kepulauan yang ia wakili hampir semua kebutuhan hidup tergantung pada BBM. Semua butuh BBM untuk kapal apalagi nelayan. Nelayan baru bisa melaut untuk mencari ikan setelah mendapat stok BBM.
Cuaca ekstrem memaksa nelayan harus menggunakan kapal bermesin, sementara kapal dengan dayung tak memungkinkan untuk mencari ikan. Ia menyayangkan pilihan pemerintah untuk menaikkan harga BBM.
“Kenaikan BBM sama sekali tak menguntungkan, coba lihat berapa harga sembako sekarang padahal UMP (Upah Minimum Provinsi) belum cukup,” katanya.
Ia berharap pemerintah memikirkan kembali rencana kenaikan. Selain itu Makagansa ingin ada upaya langsung dari pemerintah agar harga – harga pokok kebutuhan masyarakat tak melonjak. Caranya dengan dilakukan operasi pasar, atau pengawasan yang terkoordinir. (oke)

@bro Sangihe…
memang solusi yang saya berikan gak mudah untuk direalisasikan…tapi kayaknya menurut saya hanya itu yang tersisa solusi untuk sementara ini…
kalau soal pengawasan, pihak kepolisian dan pemda sudah menempatkan petugas di SPBU…namun kongkalingkong dan akal-akalan petugas dan para pebisnis minyak selalu punya cara untuk mengakali petugas.
jadi solusi saya…kita kembalikan pada mekanisme pasar…
jika para pengecer diberi kebebasan membeli stok berarti semua pengecer punya stok yang banyak…
dan para tukang kanvas bbm sudah gak punya lahan lagi, karena para pengecer dapat dengan mudah mendapatkan stok dari spbu dengan harga rp.4500/l.
– antrian di spbu jadi berkurang dan pemakai bbm lebih cenderung membeli bensin di spbu daripada membeli dari pengecer.
– pembeli pada pengecer jadi berkurang, disaat mereka mempunyai stok yang banyak…otomatis akan terjadi persaingan harga dan otomatis harga bensin akan turun sendirinya.
itulah mekanisme pasar yang saya maksudkan.
bagaimana mungkin ya bro @sangihe, para pengecer mempermainkan harga disaat bensin mereka kurang pembeli dan persediaan sangat banyak.
kalau soal uu migas, pemda sendiri sudah melangkahinya dengan memberikan rekomendasi.
ini dia kalau orang yang berkomentar sudah terlalu pintar semua. heheheheheeee
dan paling dibutuhkan saat ini adalh orang-orang yg punya karakter,,,integritas tinggi,,,,tidak menerima suap,,,,karena telah di upah berdasarkan pekerjaan/amanah yang diberikan,,,,negara kita kekurangan orang-orang yang seperti ini,,,,smoga kedepan bung marvel bisa memperjuangkan orang-orang yg punya integritas untuk SANGIHE yang lebih baik……
yang saya bisa sarankan kpd bung marvel,,agar melakukukan pendekatan kepada pertamina untuk menambah titik serah akhir BBM agar mengurangi ketergantungan pada 2 spbu di tahuna,,,dengan demikian distribusinya dapat lebih baik,,,dan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menjaga dengan ketat ke 2 spbu di tahuna yg menurut saudara einstein ada permainan dengan pihak-pihak tertentu……
@ einstein,,,,saya bkannya tidak setuju dengan anda,,,tp apakah anda tidak melihat,,menjamurnya para pengecer tersebut,,dan apabila pengecer diberikan kebebsan,,maka dengan mudahnya mempermainkan harga..? kalo saudara punya bukti permainan spbu,,sebaiknya dilapor saja kepihak yang berwajib untuk ditindaki….dan bila memberikan kebebsan kepada pengecer, itu akan berbenturan dengn uu migas…..
statemen bung marvel makagansa tak pantas untuk seorang caleg propinsi…
kenaikan harga BBM merupakan program Nasional untuk kepentingan negara…yang merupakan konsekwensi daripada pengurangan subsidi bbm…
asal bung marvel tahu saja, harga bbm di Indonesia termasuk yang paling murah di asia tenggara…
yang perlu bung marvel pikirkan adalah bagaimana caranya agar masyarakat di kepulauan dan para nelayan dapat membeli bbm dengan harga SPBU…
memang sulit, tapi harus dicari solusinya kan…???
untuk urusan harga BBM serahkan saja sama SBY…hehehehe…
statemen bro marvel cenderung pesimistis untuk PROPINSI NUSA UTARA…
asal bro tahu, disaat ‘harga bensin 10.000’ di kepulauan…
pada saat deklarasi NUSA UTARA beribu-ribu masyarakat dari kepulauan datang untuk deklarasi…!!!
bravo NUSA UTARA…!!!
@petarung
gak level.
@sangihe
maaf bro, rupanya anda memang gak ngerti yang saya maksudkan…
pemerintah membatasi kuota bbm bersubsidi, bukan berarti pemerintah sudah tak mau lagi memberikan bbm bersubsidi pada masyarakat.
point saya…harap disimak baik-baik…!!!
pemerintah tak harus meningkatkan jumlah kuota BBM untuk wilayah Sangihe…gunakan saja kuota yang telah diterima oleh depot pertamina selama ini… hanya saja, distribusi bbm selama ini ternyata merugikan atau menyulitkan sebagian besar masyarakat tapi memberikan keuntungan besar bagi sekelompok orang yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan mereka.
disatu sisi… pemerintah membatasi para pengecer untuk membeli stok minyak untuk dagangan mereka, tapi disatu sisi para petugas SPBU memberikan stok berlebihan pada mereka yang membayar dengan harga diatas harga SPBU, termasuk para sopir angkot yang berbisnis bbm.
Inilah yang membuat semrawutnya harga BBM.
memangnya menurut bro @sangihe, apabila para pengecer dengan mudah membeli stok minyak, katakanlah biasanya dapat 2 galon dan sekarang mereka bisa membeli 5 galon dengan harga rp.4500…begitu juga semua pengecer yang ada di kampung mereka…apakah ketika dagangan mereka tidak habis terjual…sisa stok minyak mereka akan diminum..???? tentu tidak kan bro…itulah yang saya maksudkan mentok dengan kebutuhan penggunaan bbm itu sendiri…
ketika para pengecer telah mendapatkan stok yang cukup dengan harga murah…maka antrian di SPBU akan berkurang jauh karena frekwensi pembelian oleh para pengecer jadi berkurang dan para sopir angkot tak lagi antri untuk berbisnis minyak…dengan demikian kecenderungan membeli bbm pada pengecer juga akan berkurang karena kemudahan membeli bbm di SPBU…
ini adalah lingkaran distribusi yang pelik…!
– orang cenderung membeli bensin pada pengecer karena panjangnya antrian pada SPBU
– mengapa antrian jadi panjang…??? karena yang ngantri bukan hanya pemakai bbm, melainkan para sopir angkot dan kendaraan pribadi yang ‘berbisinis ria bbm’ berkanvas minyak keliling pulau.
– semakin panjang antrian SPBU, semakin banyak pembeli di eceran.
– semakin banyak pembeli di eceran, semakin panjang antrian di SPBU.
– semakin tinggi harga minyak pada pengecer, semakin menggiurkan bisnis minyak…
jadilah lingkaran setan…hehehehe….
pemerintah menempatkan petugas pengawas di SPBU…tapi ternyata para pebisnis minyak saling kedip mata dengan para petugas SPBU…
wah,,,wah,,wah,,,,sangat sulit di pahami dengan akal sehat solusi dari einstein,,,,mungkin karena pengaruh kepntaran orang ini,, di tengah upaya pemerintah membatasi kuota bbm bersubsidi,,,,seandainya orang ini nyalon presiden maka orang ini adalah solusi yg kurang lebih, baiklah……
@einstein Sagala macam jo ngana ba komen kalo nintau persoalan nda usah mo banya mulu,kalo ngana pe model dapalia suka mo jadi pejabat mar lantaran nda kesampaian,jadi komen selalu mendiskreditkan pemerintah,kalo pemerintah berhasil selalu akan bilang hal negatif.makanya einstein ngana pe hidup nda pernah maju cuma stagnan malah cenderung mundur.butul to?
satu resiko yang akan terjadi dengan kebijaksaan tersebut adalah PENYELUNDUPAN…
itulah yang menjadi kerja keras aparat hukum di daerah…
jika penyelundupan BBM tak dapat diatasi, sudah tak ada lagi cara yang logis untuk mengatasi persoalan BBM.
dahulu pernah terjadi masalah ketika segelintir orang berbisnis BBM ke Sitaro, karena ternyata di Sitaro harga Bensin di tingkat pengecer di kampung-kampung bisa mencapai 15.000-20.000/liter…
dan dalih mereka adalah…menjual di daerah kepulauan di selatan Sangihe…padahal dijual ke Sitaro yang hanya tinggal beberapa mil ke selatan kepulauan sangihe…
ada juga yang melakukan penyelundupan ke utara, yaitu ke luar perbatasan ke wilayah negara Philipina.
apabila aparat Hukum TNI Polri bekerjasama dengan Pemda dapat mengendalikan penyelundupan ini maka harga sirkulasi BBM akan normal kembali apabila kran SPBU dibuka seluas-luasnya untuk kepentingan masyarakat umum di Sangihe…maka harga BBM akan menjadi logis kembali dengan rp.5000-6000 ditingkat pengecer di kota Tahuna.
bravo NUSA UTARA…!!!
selama ini pemda Kabupaten Sangihe telah melakukan berbagai upaya…
namun tak bisa menyelesaikan semrawut distribusi BBM….
– para pengecer membeli minyak dengan jatah kuota yang dibatasi
– para pengecer harus punya surat rekomendasi dari camat
– para sopir angkot diberikan jatah kuota
menurut saya….cara tersebut sangat keliru dan tidak efisien…
mau solusi lain…???? einstein akan coba berikan alternatif…
1. berikan akses yang seluas dan semudah mungkin bagi para pengecer untuk membeli BBM dengan harga SPBU tanpa jatah kuota.
2. tak perlu rekomendasi untuk menjadi pengecer.
3. tak perlu ada jatah-jatahan kuota bagi siapapun juga yang akan membeli BBM
sulit dipahami…????
jika masyarakat dapat membeli BBM semudah membeli beras di warung…
semuanya akan berbondong-bondong membeli BBM…
tapi ternyata aksi borong itu akan terhenti…karena akan mentok pada kebutuhan penggunaan BBM itu sendiri…
dan pada akhirnya hukum pasar akan berlaku…
– barang sulit, harga naik
– barang berlebihan, harga turun.
antrian BBM di SPBU akan berkurang, dan pemakai ranmor lebih cenderung membeli di SPBU daripada di pangkalan eceran.
harga minyak eceran akan otomatis turun…karena memang harga rp.7000 / liter bukan berarti pengecer mendapat keuntungan 2500/liter melainkan harga pokok pembelian yang tinggi yaitu rp.6000 dari petugas SPBU atau dari sopir angkot.
ketika stok minyak pada pengecer berebihan, para pengecer akan menunggu stok habis baru membeli lagi, karena teryata muncul juga pesaing yang juga berlebihan stok…
jika para pengecer dari kepulauan dapat memperoleh minyak dengan mudah di SPBU berarti mereka akan menjual rp.6000/l di kepulauan.
sirkulasi dan distribusi BBM akan normal kembali…
tentu saja butuh waktu hingga normal kira-kira 3-5 bulan
dibandingkan dengan yang terjadi saat ini tak akan terselesaikan hingga timbul masalah sosial yang lain.
bung marvel…
statemen yang pasrah seperti itu akan bikin resah masyarakat…
padahal kuncinya ada pada sikap pemda Sangihe….
bung Marvel tahu gak…??? bahwa harga 10.000 di kepulauan, ternyata di Pompa SPBU harganya hanya 4.500/liter…
dan lucunya…pengecer minyak yang berjualan 25m disamping pompa bensin menjual bensin dengan harga Rp.7.000/liter harga yang sama untuk semua penjual eceran di Tahuna….
menurut saya…kenaikan harga BBM 500-1000 per liter tak jadi masalah… karena apa…???
karena masyarakat kelihatan tak galau dan tak resah dengan harga bensin eceran Rp.7.000-10.000/liter.
ternyata sistem distribusi BBM lah yang bikin harga tak terkendali…
– para petugas di SPBU mempersulit masyarakat dan pengecer yang hendak membeli BBM menggunakan galon…tapi ternyata hal itu dilakukan hanya supaya mereka dapat mempermainkan harga BBM
– para pengecer harus membayar upeti dan sogokan kepada petugas SPBU agar mendapatkan stok minyak… akibatnya harga satuan minyak per liter jadi tinggi.
– para sopir angkot kerjaan mereka sudah bukan lagi narik taksi, melainkan berbisnis BBM…mereka bolak-balik SPBU hingga 2-3 kali ngantri kemudian dijual lagi pada pengecer dengan harga 6000/liter.
– dan ternyata para pengecer dari daerah kepulauan, karena sulitnya ngantri untuk mendapatkan stok minyak, mereka bahkan membelinya para juragan taksi air/perahu dengan harga 8000-9000/l yang ternyata….juga para pemilik perahu itu, membelinya dari para pengecer di kota tahuna dengan harga eceran 7000/liter.
bayangkan saja semrawutnya distribusi minyak ini…