
Jakarta, BeritaManado.com — Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD, kembali mencuri perhatian. Bukan karena jabatan, melainkan karena analisis hukumnya yang tajam.
Ia ‘turun gunung’ mengomentari penetapan tersangka Nadiem Makarim dan menyoroti satu kesalahan sepele yang berpotensi menjadi blunder fatal bagi Kejaksaan Agung.
Lewat akun X (dulu Twitter) miliknya, Mahfud MD mengkritik cara Kejaksaan Agung mengumumkan status Nadiem. Pemicunya, kesalahan penyebutan jabatan.
“Saat mengumumkan NAM sbg Tsk. Korupsi Dirdik Nurcahyo dari Kejagung menyebut Jabatan NAM di bulan Pebruari 2020 adl Mendikbudristek,” tulis Mahfud, dikutip dari Suara.com jaringan BeritaManado.com, Jumat (5/9/2025).
Sekilas, kesalahan ini terlihat tidak penting. Tapi dalam kacamata hukum, ini adalah celah krusial yang bisa membuat Nadiem lolos.
Mahfud langsung menunjukkan letak kesalahannya: “Hrs cermat, saat itu NAM adl Mendikbud, blm Mendikbudristek.”
Apa Bedanya “Mendikbud” dan “Mendikbudristek”?
Bagi kita, perbedaan satu kata ini mungkin tak ada artinya. Tapi dalam kasus hukum, ini bisa jadi penentu.
• Mendikbud: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
• Mendikbudristek: Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Jabatan “Mendikbudristek” baru ada sejak April 2021. Sementara dugaan kasus korupsi Chromebook yang menjerat Nadiem terjadi pada Februari 2020. Pada saat itu, jabatan Nadiem secara resmi hanyalah Mendikbud.
Senjata Bernama “Eksepsi”
Kesalahan ini bukan sekadar salah ketik, melainkan amunisi yang bisa dimanfaatkan tim pengacara Nadiem.
Mahfud MD mengingatkan, “Hati2 dlm dakwaan nanti, subjectum litis bisa dieksepsi lho.”
Subjectum Litis adalah istilah hukum untuk “subjek hukum” dalam sebuah perkara.
Jika Kejaksaan Agung salah menyebut jabatan Nadiem dalam surat dakwaan, seluruh kasus ini bisa gugur di awal persidangan, bahkan sebelum masuk ke pembuktian materi korupsinya.
Kasus ini bisa rontok hanya karena alasan teknis.
Peringatan Mahfud ini bukanlah upaya untuk membela Nadiem, melainkan ‘bantuan’ pro bono untuk Kejaksaan Agung.
Tujuannya agar mereka tidak melakukan kesalahan fatal yang bisa merusak kasus besar yang sudah dinanti-nanti publik.
Kini, nasib kasus ini ada di tangan penyidik. Akankah mereka mendengarkan nasihat dari sang profesor dan memperbaiki blunder ini, atau justru meremehkannya dan mengambil risiko kasus ini kandas di tengah jalan?
Bagaimana pendapatmu, apakah ini hanya kesalahan sepele atau celah yang benar-benar bisa dimanfaatkan tim Nadiem?
