
Manado, BeritaManado.com – Lantamal VIII Manado bersama Rumkital dr. Wahyu Slamet Bitung menggelar pelatihan dasar menghadapi situasi korban henti jantung mendadak, Kamis (5/3/2020).
Kegiatan tersebut, dipimpin oleh Kadiskes Lantamal VIII Mayor Laut (K) drg. Suhartono, Sp.KG didampingi oleh Mayor Laut (K) dr. I Gede Sutaniyasa, Sp.An, yang sehari-harinya menjabat sebagai Kasubbag Rumkital dr. Wahyu Slamet Bitung, serta Anggota Diskes Lantamal VIII dan anggota Rumkital dr. Wahyu Slamet Bitung.
Danlantamal VIII Brigjen TNI (Mar) D.P. Rompas menjelaskan, pertolongan pertama yang cepat, khususnya penggunaan teknik resusitasi jantung paru (CPR) adalah faktor penting untuk meningkatkan peluang bertahan hidup dan pemulihan.
Sebelum menolong korban, pastikan lingkungan sekitar aman untuk kita maupun orang lain, jangan dekati korban bila melihat bahaya, seperti kabel listrik yang menjuntai, percikan api, longsoran batu.
“Cek respons atau kesadaran korban. Jika tingkat kesadaran korban menurun, tepuklah bahunya, apabila korban masih tidak merespons, mintalah bantuan orang sekitar untuk menelepon ambulans, mengambilkan kotak P3K dan alat Automated External Defibrillator (AED). Kemudian lanjutkan dengan mengecek napas korban selama 5-10 detik,” ucap D.P. Rompas.
“Jika tidak bernapas segera lalukan resusitasi jantung dan paru atau CPR dengan kompresi dada. Agar kompresi dada efektif, korban harus dalam posisi terlentang pada permukaan yang rata dan keras,” sambung D.P. Rompas.
Lanjut Danlantamal, setelah memberikan 30 kali kompresi dada, buka jalan napas dengan metode head tilt – chin lift.
“Caranya letakkan tangan di dahi korban dan tengadahkan kepala korban. Letakkan ujung jari di bawah dagu, dan angkat dagu korban. Pastikan tidak ada sisa makanan sekitar area mulut,” ungkap Danlantamal
Selanjutnya berikan dua kali bantuan napas, tutup hidung dengan ibu jari dan telunjuk. Tiup sekitar 1 detik untuk membuat dada terangkat, kemudian lanjutkan dengan tiupan berikutnya. Lanjutkan 30 kali kompresi dada dan 2 kali bantuan napas dalam 2 menit atau sekitar 5 kali pengulangan. Setiap 2 menit, lakukan pengecekan napas kembali.
CPR baru bisa dihentikan saat korban memberi respon (biasanya terbatuk) atau mulai bernapas lagi, saat penolong tidak mampu lagi memberikan pertolongan, saat tim medis sudah datang, atau sudah ada keputusan dari dokter.
“Jika korban mulai bernapas setelah diberikan CPR, lakukan posisi pemulihan. Tarik lengan terjauh korban melewati dada, dan punggung tangannya menempel pada pipi. Dengan tangan satunya, tekuk lutut kaki bagian terjauh korban.” ujar Brigjen TNI (Mar) D.P. Rompas.
Balikkan atau miringkan korban ke arah penolong, biarkan lutut kaki yang sudah ditekuk tetap dalam posisi demikian.
Tengadahkan kepala korban untuk mempertahankan jalan napas. Pantau keadaan korban hingga bantuan medis tiba.
“Demikianlah beberapa tips dan cara dalam membantu korban yang mengalami henti jantung mendadak,” tandas Danlantamal VIII
Hadir dalam kegiatan tersebut, Danlantamal VIII Brigjen TNI (Mar) Donar Philip Rompas, Wadan Lantamal VIII Kolonel Laut (P) Johanes Djanarko Wibowo, para Asisten Danlantamal VIII, para Kadis/Kasatker Lantamal VIII, serta seluruh personil Lantamal VIII.
(***/Hardinan Sangkoy)
