
Jakarta, BeritaManado.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global dan domestik.
Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 25 Februari 2026.
Dalam siaran persnya, Selasa (3/3/2026), OJK menyebut perekonomian global masih menunjukkan kinerja relatif baik, meski dibayangi peningkatan tensi geopolitik dan fragmentasi geoekonomi, termasuk di Timur Tengah serta dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
Dari sisi domestik, ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 tumbuh solid sebesar 5,39 persen year on year (yoy), sehingga secara keseluruhan tahun 2025 mencatat pertumbuhan 5,11 persen.
Inflasi headline meningkat terutama akibat efek basis rendah tahun sebelumnya, sementara aktivitas manufaktur tetap berada dalam fase ekspansif pada awal 2026.
Pasar Modal: IHSG di Level 8.235, Investor Tumbuh 12,34 Persen
Pada Februari 2026, tekanan di pasar saham domestik terpantau mereda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) per 27 Februari 2026 ditutup di level 8.235,49 atau terkoreksi 1,13 persen secara month to date (mtd) dan 4,76 persen year to date (ytd).
Rerata Nilai Transaksi Harian (RNTH) saham tercatat Rp25,62 triliun, masih konsisten di atas Rp20 triliun sejak Agustus 2025. Proporsi transaksi investor ritel mencapai 53 persen, sementara investor asing membukukan net sell Rp0,36 triliun secara mtd.
Di pasar obligasi, indeks komposit ICBI ditutup di level 442,12 atau terapresiasi 0,45 persen mtd. Investor nonresiden mencatat net sell Rp3,35 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Di tengah dinamika tersebut, industri pengelolaan investasi tetap mencatat kinerja positif. Nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.115,71 triliun atau tumbuh 7,0 persen ytd.
Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana sebesar Rp726,26 triliun, naik 7,54 persen ytd, dengan net subscription Rp43,12 triliun secara ytd.
Dari sisi jumlah investor, hingga 25 Februari 2026 terdapat tambahan 1,8 juta investor baru. Secara ytd, jumlah investor pasar modal tumbuh 12,34 persen menjadi 22,88 juta investor.
Penghimpunan dana korporasi di pasar modal hingga 27 Februari 2026 mencapai Rp39,09 triliun dari 32 penawaran umum efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS).
Selain itu, terdapat 25 rencana penawaran umum dalam pipeline dengan nilai indikatif Rp16,83 triliun.
Perbankan: Kredit Tumbuh 9,96 Persen, Likuiditas Terjaga
Kinerja intermediasi perbankan tetap tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga. Pada Januari 2026, kredit perbankan tumbuh 9,96 persen yoy menjadi Rp8.557 triliun.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh tertinggi sebesar 22,38 persen, diikuti kredit konsumsi 6,58 persen dan kredit modal kerja 4,13 persen.
Kredit korporasi tumbuh 16,07 persen yoy, sementara kredit bank BUMN meningkat 13,43 persen yoy.
