“Hal ini saya tahu dari seorang anggota rombongan bernama pak Sutjipto yang waktu itu sebagai wakil kepala Biro Pusat Stastitik (BPS) yang ikut bersama pak Habibie,” ujar Wauran.
Dilanjutkan Wauran, setelah kembali ke Jakarta Sutjipto mengundang dia kerumahnya di Cempaka Putih.
“Beliau ceritakan kepada saya percakapan pak Habibie dengan anggota delegasi yang ke New York, yang membahas masukan saya,” tutur Wauran.
Selesai Sutjipto sampaikan percakapan tersebut di New York, Sutjipto menyampaikan sesuatu kepada saya.
“Pak Markus, percayalah dan sampaikan kepada teman-teman bahwa ICMI tidak akan menjadi organisasi yang berjuang membangun negara Islam. ICMI akan tetap berpegang teguh pada Pancasila. ICMI terbuka untuk bekerja sama dengan organisasi intelektual non-Muslim membangun bangsa ini. Pak Markus saya ini seorang nasionalis,” kata Wauran menirukan ucapan Sutjipto.
Setelah Sutjipto katakan seorang nasionalis, dalam hati Wauran bertanya-tanya apakah Sutjipto ini seorang aktivis GMNI seperti dia? Namun Markus Wauran tidak sempat menanyakan.
Disimpulkannya dari kesaksian BJ Habibie dan Sutjipto tersebut bahwa bisa menilai perjalanan ICMI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara setelah kepemimpinan BJ Habibie, Adi Sasono, Ilham Habibie hingga Jimly Asshiddiqie.
(BennyManoppo)
