Dibutuhkan edukasi, sosialisasi dan kebijakan dari pemerintah sehingga masyarakat bisa yakin dan akhirnya beralih menggunakan gas.
Menurut Meyvi, hal yang sama juga harus diberlakukan saat ini, terutama dimulai dari sosialisasi agar istilah transisi energi dapat diperhatikan oleh masyarakat umum. Sebagai ibu rumah tangga, dirinya siap jika harus mulai belajar menerima hal baru tentang energi meski butuh waktu yang panjang.
“Tapi ya tentu perlahan ya karena masih bingung bagaimana nantinya. Sebagai ibu rumah tangga, kalau dijelaskan dampaknya akan baik kepada anak cucu tentu saja kami perhatikan hal itu. Hanya kami butuh lebih banyak informasi lagi, misalnya bagaimana tenaga surya bisa dipakai di rumah dan terutama bagaimana mo memulai transisi itu, apalagi semua jaringan listrik di rumah masih bergantung ke konvensional,” kata Meyvi.
Kesiapan Kota Manado yang sudah mulai ditunjukkan dan disertai dengan dukungan banyak pihak ini membawa harapan akan masa depan yang cerah. Meski masih membutuhkan banyak tenaga, pikiran, komitmen, evaluasi dan sinergitas yang solid, tapi setidaknya Pemerintah Kota Manado mulai berusaha menanamkan kesadaran akan pentingnya belajar melakukan transisi energi dimulai dari hal kecil.
Perkembangan terkait rencana awal ini tentu saja akan dinanti, terutama bagaimana Manado bangkit lagi dan mulai konsisten dalam menapaki jalan yang dibuka oleh pemerintah. Babak baru perjalanan Kota Manado menuju transisi energi dengan target tenaga surya baru saja dimulai kembali.
Indonesia sendiri masih berkomitmen mencapai target yang ditetapkan pada Paris Agreement 2015 lalu, apalagi Indonesia memiliki semua potensi energi terbarukan. Dari data Kementerian ESDM, sumber energi terbarukan di Indonesia berdasarkan potensinya dari yang terbesar hingga terkecil yaitu tenaga surya, air, angin, panas bumi dan bioenergi mencakup mini dan micro hidro hingga arus laut.
Hal itu pernah dibahas oleh Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana saat menjadi pembicara pada forum diskusi internasional, United States Power Working Group for Indonesia (PWG) bertema Oppurtunities In Renewable Energy, Including The Draft Of The New Predential Decree And The Omnibus Bill Impact On Renewable Energy Sector, secara virtual di awal tahun 2021.
Sebagai daerah dengan iklim tropis, maka tidak mengherankan jika tenaga Surya memiliki potensi terbesar karena Indonesia memang mendapat asupan cahaya matahari sepanjang tahun.
Bicara soal transisi energi dari konvensional ke energi baru terbarukan, Indonesia menjadi negara yang baru memulai, jika dibandingkan dengan negara lain, sebut saja Jerman yang sudah terlihat perubahannya.
Agus Praditya Tampubolon selaku Project Manager Clean, Affordable and Secure Energy (CASE) for Southeast Asia mengungkapkan betapa pentingnya transisi energi di Indonesia, diantaranya untuk memastikan ketahanan energi jangka panjang, memenuhi target perubahan iklim, mengantisipasi terjadinya potensi aset yang terdampar (stranded asset) dari pembangkit fosil serta mengukur dan mengelola potensi pengurangan pendapatan domestik regional bruto (PDRB) dari sumber-sumber energi fosil di tingkat nasional dan daerah.
“Untuk itu, transisi energi yang berkeadilan dan berkelanjutan di Indonesia perlu disiapkan dengan baik,” ujar Agus dalam pelatihan jurnalistik transisi energi yang digelar CASE-IESR-SIEJ di kuarter 3 tahun 2021.
Agus pun mengingatkan 3 hal yang harus dilakukan dalam mewujudkan transisi energi di Indonesia, seperti mendorong perubahan kebijakan energi yang diterapkan oleh Kementerian ESDM yang merupakan dasar untuk implementasi aktual, agenda politik yang harus difokuskan pada pentingnya transisi energi terutama untuk kebijakan publik dan tentu saja meningkatkan kesadaran seluruh lapisan masyarakat tentang pentingnya transisi energi.
Menyusul transisi energi yang mulai dijalankan ditingkat pusat, daerah-daerah di Indonesia juga turut mengambil langkah untuk maju bersama, termasuk Kota Manado yang ada di provinsi Sulawesi Utara.
(SriSurya)
