“Pasti kita optimis karena bagi pemerintah sendiri, efek tersebut ya dianggaran. Kita bisa berhemat anggaran, anggaran yang kita pakai untuk bayar listrik secara konvensional, kita bisa alihkan ke pembangunan pembangunan lain,” pungkas Richard.
Pengamat sosial dan politik pemerintahan lulusan Universitas Gajah Mada (UGM), Taufik Tumbelaka mengatakan, transisi energi dari konvensional ke energi baru terbarukan merupakan hal yang sangat baik dan sudah seharusnya Kota Manado ada didalamnya.
Jika mengikuti perkembangan dunia saat ini, negara-negara maju sudah ada didalam lingkungan transisi energi dan dampak atau progress-nya sudah terlihat jelas.
Namun harus diakui, terdapat tantangan besar yang dihadapi, khususnya dalam hal penerapan kebijakan.
Masalah hukum yang pernah terjadi tentang penerapan tenaga surya di Kota Manado sejak beberapa tahun silam, dikatakan Taufik bukan menjadi alasan untuk tidak melangkah maju.
“Meski ada tantangan, harus maju. Itu sebabnya penting melakukan evaluasi. Perlu dimatangkan lagi tentang perencanaan, penerapan atau pelaksanaannya di lapangan, dan tentu konsistensinya,” ujar Taufik.
Taufik melanjutkan, untuk urusan transisi energi sebenarnya bisa dimulai dari hal sederhana yang selama ini sering diabaikan, mulai dari kalangan pemerintah itu sendiri.
Misalnya mulai menghemat energi dari lingkungan kerja, seperti mendesain bangunan atau gedung pemerintahan yang ramah lingkungan dan energi.
Sebagai contoh, Taufik menyebut gedung kantor milik Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Minahasa.
“Gedung pemerintahan sudah seharusnya jadi contoh ramah energi, ramah lingkungan. Mulai dari desain jendela yang besar untuk pencahayaan yang lebih baik, bagian plafond yang tinggi untuk sirkulasi udara sehingga memang menghemat energi. Dimulai dari hal seperti itu,” kata Taufik.
Optimisme Kota Manado ini pun disambut baik oleh Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Sulawesi Utara. Sebagai komunitas milenial bentukan Kemenparekraf dan kini sedang bekerja sama dengan sejumlah kementerian, GenPI menyatakan dukungannya terhadap pemerintah yang mulai menaruh perhatian terhadap transisi energi.
Pyzane Yev Zane Mangkei selaku Ketua GenPI Sulawesi Utara dan Kabid SDM GenPI nasional mengatakan, pemerintahan yang baru di Kota Manado memang punya tugas besar untuk memulai langkah penting dalam membawa Manado menjadi kota yang lebih ramah lingkungan dan energi.
“Masyarakat menaruh kepercayaan kepada pemerintahan Pak Andrei Angouw dan Pak Richard Sualang, terutama dalam hal menyusun kembali kekuatan di jajarannya yang memang bisa berjalan bersama dalam pengabdian kepada masyarakat. Ini penting agar solusi demi solusi atas kendala yang dihadapi dapat dieksekusi dengan maksimal. Apalagi, transisi energi itu butuh komitmen dan konsistensi,” jelas Pyzane.
Dukungan yang ada ini kiranya juga akan makin meluas sehingga langkah demi langkah yang akan diambil oleh pemerintah dapat terlihat dampaknya.
Dorongan pemerintah terhadap pembangunan yang harus memperhatikan lingkungan dan energi pun disepakati Pyzane sebagai langkah yang baik dan harus dijadikan sebagai tren terkini.
“Pembangunan yang harus memperhatikan penghematan energi itu sudah baik. Jadi saat siang hari tidak harus menyalakan lampu yang terlalu banyak dan menghidupkan AC karena desain bangunan yang sudah dipikirkan sejak awal. Kedepan, mulai dipasang solar cell. Dampaknya akan sangat besar bagi bumi, termasuk manusia. Kami, komunitas milenial yang punya jaringan se-Indonesia ini siap membantu pemerintah mensosialisasikan ini kepada masyarakat,” pungkas Pyzane.
Sementara, bagi masyarakat khususnya ibu rumah tangga, masalah transisi energi bisa menjadi isu sensitif karena tidak semuanya bisa memahami hal ini dengan mudah.
Meyvi Lumangkun, Ketua Asosiasi Desa Kreatif Indonesia (ADKI) Sulawesi Utara yang juga merupakan ibu rumah tangga ini mencontohkan, seperti halnya pergantian dari kompor minyak tanah ke gas.
