
Kawangkoan, BeritaManado.com — Turun dengan kekuatan penuh sekitar 500 orang, Kaum Bapak Katolik (KBK) Paroki St Petrus Langowan sukses ‘birukan’ pusat Kota Kawangkoan dalam iring-iringan defile hari ke-3 Konferensi VII dan Pertemuan Raya KBK Keuskupan Manado, Minggu (17/7/2022).
Pemandangan tersebut terpantau di depan Rumah Kopi Toronata Kawangkoan yang berhasil diabadikan Ketua Komisi Pria Kaum Bapak (KPKB) Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) Penatua Stefen Supit.

Kepada BeritaManado.com, Pnt Stefen Supit menuturkan bahwa suasana pusat kota Kawangkoan sendiri hingga jelang malam hari seperti pemandangan saat pengucapan syukur yang ditrandai dengan macetnya lalu lintas di jalan raya.
“Salah satu iring-iringan defile yang sukses membuat pusat kota Kawangkoan menjadi lautan manusia adalah dari KBK St Petrus Langowan dengan seragamnya berwarna biru bernuansa bendera merah putih dan kuning putih, serta turut dimeriahkan kelompok kabasaran,” ujar Pnt Stefen Supit.

Pada bagian lain, Ketua KBK Paroki St Petrus Langowan AIPTU Mathias Batlyol SH kepada BeritaManado.com saat melintas di depan Kantor Camat Tompaso Barat mengatakan bahwa meski secara fisik karena harus melintasi jarak tempu Tompaso ke pusat Kawangkoan sekitar 3 kilometer, namun hal itu tidak jadi penghalang keterlibatan KBK dari Paroki St Petrus Langowan.
“sektiar 500 orang yang mengikuti defile ini adalah bentuk pemberian diri kami untuk berjalan bersama dalam rupa-rupa dinamika kehidupan yang dihadapi. Secara pribadi pasti kita punya berbagai permasalahan di tengah-tengah keluarga, namun dalam konteks persatuan, kita punya semangat untuk berjalan bersama,” kata Batlyol.

Demikian juga diutarakan salah satu anggota KBK Paroki St Petrus Langowan asal Stasi Kawatak Ferdi Moniung, bahwa sebagai bagian dari elemen gereja dan masyarakat, setiap KBK punya peran panting dan strategis di dalam keluarga.
“Dari keluarga kita membentuk suatu pola kahidupan yang dapat memberikan warna tersendiri dalam skala kehidupan yang lebih luas yaitu di lingkungan gereja maupun masyarakat. Dengan demikian, semboyan Pro Familia, Pro ecclesia dan Pro Patria dapat selalu menjadi bagian dalam setiap karya kita sebagai kepala keluarga, anggota umat dan masyarakat,” harapnya.
(Frangki Wullur)
