
Rumah Kopi Toronata, salah satu destinasi wisata kuliner di Kawangkoan
Penulis: Frangki Wullur | Kawangkoan
Kawangkoan selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kuliner khas Minahasa yang memiliki daya tarik kuat bagi masyarakat Sulawesi Utara.
Aneka menu makanan tradisional, jajanan khas, hingga produk olahan lokal telah menjadi identitas daerah yang terus menarik kunjungan masyarakat dari berbagai wilayah di Sulawesi Utara maupun luar daerah.
Potensi tersebut dinilai masih sangat besar untuk dikembangkan menjadi sektor unggulan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat industri pariwisata di Kabupaten Minahasa.
Pengembangan wisata kuliner Kawangkoan ke depan diarahkan tidak hanya sebagai tempat menikmati makanan khas, tetapi juga menjadi destinasi wisata yang menawarkan pengalaman budaya, sejarah dan kehidupan masyarakat lokal.
Salah satu kekuatan utama Kawangkoan adalah keberadaan kuliner legendaris yang telah dikenal luas, seperti kacang Kawangkoan, berbagai jenis kue tradisional, makanan khas Minahasa, serta produk UMKM yang menjadi oleh-oleh favorit wisatawan.
Selain itu, posisi Kawangkoan yang berada di jalur strategis penghubung sejumlah kawasan wisata di Minahasa menjadikan daerah ini memiliki peluang besar sebagai titik persinggahan wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi lainnya.
Para pelaku pariwisata menilai pengembangan wisata kuliner Kawangkoan perlu didukung melalui penataan kawasan kuliner yang lebih modern, nyaman, dan ramah wisatawan.
Konsep pusat kuliner terpadu dapat menjadi salah satu alternatif untuk menghadirkan berbagai produk unggulan dalam satu kawasan yang tertata baik.
Pemanfaatan teknologi digital juga menjadi faktor penting dalam pengembangan sektor ini.
Promosi melalui media sosial, platform wisata, hingga pemasaran digital produk UMKM diyakini mampu memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.
Disamping itu, penyelenggaraan festival kuliner secara berkala dapat menjadi sarana promosi efektif sekaligus memperkuat identitas Kawangkoan sebagai pusat wisata kuliner Minahasa.
Festival tersebut dapat dipadukan dengan pertunjukan seni budaya, pameran produk lokal, serta kegiatan ekonomi kreatif masyarakat.
Pengembangan wisata kuliner ini juga perlu diintegrasikan dengan sektor lain seperti wisata budaya, wisata sejarah, dan wisata alam.
Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati makanan, tetapi juga memperoleh pengalaman yang lebih lengkap selama berada di Kawangkoan.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia, standar kebersihan, keamanan pangan, serta kemasan produk yang lebih menarik menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan daya saing kuliner lokal di tengah persaingan industri pariwisata yang semakin ketat.
Dengan dukungan pemerintah, pelaku usaha, komunitas dan masyarakat, Kawangkoan memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata kuliner unggulan di Sulawesi Utara.
Potensi yang dimiliki saat ini dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal sekaligus memperkuat posisi Minahasa sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang kaya akan cita rasa dan budaya.
Arah pengembangan yang dapat menjadi fokus kebijakan antara lain adalah penetapan Kawangkoan sebagai kawasan wisata kuliner khas Minahasa.
Selain itu perlu juga dilakukan penataan sentra kuliner dan UMKM dalam satu kawasan terpadu, penguatan branding “Kawangkoan Kota Kuliner Minahasa”, Festival kuliner tahunan berskala regional dan nasional.
Yang tidak kalah pentingnya adalah pengembangan wisata oleh-oleh berbasis UMKM, integrasi wisata kuliner dengan wisata budaya dan sejarah, digitalisasi promosi dan pemasaran produk kuliner lokal.
Untuk menopang rencana besar tersebut, perlu dilakukan peningkatan standar higienitas dan pelayanan usaha kuliner serta penyediaan ruang kreatif bagi generasi muda pelaku usaha kuliner serta mendorong investasi sektor kuliner dan ekonomi kreatif.
Disamping hal-hal yang menjadi konsep strategis tersebut ada satu hal panting yang harus diketahui seluruh lapisan masyarakat, bahwa Bahwa Kawangkoan tetap harus terus berbenah.
Hal ini bukan hanya melakukan berbagai hal demi mendukung terwujudnya apa yang diharapkan, melainkan juga mempersiapkan diri agar siap menghadapi berbagai dinamika pada sektor tersebut.
Stefen Supit, salah satu tokoh masyarakat Kawangkoan, kepada BeritaManado.com, Selasa (23/6/2026) mengatakan bahwa modal dasar yang harus ada adalah membangun pola pikir yang berfokus pada kesadaran diri tentang perlunya memiliki karakter rasa memiliki.
“Hal ini penting, karena tanpa rasa memiliki, maka semua yang dikerjakan baik pemerintah atau pihak lain akan menjadi sia-sia,” ungkap Stefen Supit.
