Para perawat menyambut kami seperti keluarga yang sedang mereka jaga.
Mereka membantu menyiapkan kebutuhan istri saya dengan telaten.
Menjelaskan prosedur dengan sabar. Bahkan beberapa kali memastikan apakah kami sudah makan atau belum.
Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat biasa.
Tetapi bagi keluarga pasien yang sedang cemas, perhatian kecil bisa terasa sangat besar.
Keesokan paginya, operasi dilakukan.
Saya duduk menunggu dengan perasaan campur aduk.
Cemas.
Takut.
Berdoa dalam diam.
Dan selama proses itu, para perawat terus datang memberi kabar dengan cara yang begitu menenangkan.
Tidak ada wajah dingin.
Tidak ada sikap seolah pasien hanyalah nomor antrean.
Yang saya lihat justru ketulusan orang-orang yang bekerja dengan hati.
Sekitar dua jam kemudian, kabar itu datang.
Operasi berjalan lancar.
Puji Tuhan.
Saya menghela napas panjang.
Rasanya seperti baru saja dilepaskan dari beban besar yang menekan dada sejak malam sebelumnya.
Hari-hari setelah operasi menjadi pengalaman yang semakin membuka mata saya tentang rumah sakit ini.
Perawat rutin mengecek kondisi istri saya.
Mereka selalu datang dengan sapaan hangat.
“Jangan sungkan panggil kami ya pak kalau perlu bantuan.”
Kalimat sederhana itu terus saya ingat sampai sekarang.
Karena di saat seseorang sedang sakit, rasa tenang adalah obat yang tidak bisa dibeli.
