Berita Utama

Jujur, Awalnya Saya Ragu ke RSUD Maria Walanda Maramis

Tetapi malam itu, kalimat itu terasa sangat manusiawi.

“Kapan operasinya dok?” tanya saya perlahan.

“Besok pagi.”

Jujur, saya makin gugup.
Baru beberapa jam tiba di rumah sakit, lalu besok pagi operasi menunggu.

Namun dokter itu tetap tenang.

Ia tidak memaksa.
Ia memberi kami ruang untuk berpikir.

Dan yang paling saya ingat, sekitar satu jam kemudian ia datang lagi menemui kami.
Padahal kami tidak memanggilnya.
Ia datang sendiri.

Mungkin ia tahu ada dua orang yang sedang duduk dalam kegundahan malam itu.

Dokter itu lalu menjelaskan semuanya dengan sabar.

Saya dan istri bergantian bertanya banyak hal.

Tentang risiko, tentang proses operasi, tentang kemungkinan setelah tindakan.

Ia menjawab satu demi satu tanpa nada kesal sedikit pun.
Tenang.
Lembut.

Dan sangat menghargai kegelisahan pasien.
Malam itu saya dibelajarkan: pengetahuan bisa membuat orang percaya, tetapi ketulusan membuat orang merasa aman.

Dari IGD, kami dipindahkan ke ruang rawat inap kelas I.

Ruangan itu bersih.

Pendingin ruangan membuat suasana nyaman. Lantainya mengilap. Tempat tidurnya tertata rapi.

Namun sekali lagi, yang paling berkesan bukanlah gedung atau fasilitasnya.

Melainkan manusia-manusia di dalamnya.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara