Berita Utama

Jujur, Awalnya Saya Ragu ke RSUD Maria Walanda Maramis

Saya menjawab bahwa istri saya masih bisa berjalan pelan.

Kami masuk ke IGD.

Dan sejak langkah pertama malam itu, saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda.

Tidak ada wajah jutek.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada nada tinggi yang konon sering menjadi ketakutan banyak orang ketika berurusan dengan rumah sakit.

Yang kami temukan justru keramahan.

Seorang perawat menyambut kami dengan senyum menenangkan.

Ia berbicara pelan kepada istri saya, menanyakan satu per satu keluhan dengan sabar, seolah memahami bahwa orang yang sedang sakit tidak hanya membutuhkan tindakan medis, tetapi juga ketenangan.

Cara perawat itu berbicara membuat saya sadar: kadang kesembuhan memang dimulai dari ketulusan.

Tak lama kemudian, seorang dokter datang.

Masih muda.

Jambangnya tipis, wajahnya tenang, langkahnya cepat namun tidak tergesa.

Sebelum menuju bilik kami, ia lebih dulu memeriksa pasien lanjut usia di sebelah.

Dan percakapan sederhana itu entah mengapa begitu membekas di kepala saya.

“Ini pasti ada makan pedis kang?” katanya sambil tersenyum kecil.

Opa itu tertawa pelan sambil menahan sakit.
“Iyo dok…”

Dokter ikut tersenyum.

Di tengah ruang IGD yang penuh kecemasan, percakapan ringan itu terasa seperti cahaya kecil yang menenangkan suasana.

Saya memperhatikan dokter muda itu diam-diam.
Dan saya mulai mengerti, dokter bukan hanya tentang ilmu dan resep obat.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara