
Oleh: Alfrits Semen
MALAM itu, Minggu 3 Mei 2026, saya melihat sesuatu yang jarang saya lihat di wajah istri saya.
Ketakutan.
Ia duduk sambil menahan nyeri yang seolah menusuk tanpa ampun.
Sesekali matanya terpejam, tangannya menggenggam bagian tubuh yang sakit, dan dari wajahnya saya tahu… ia sudah benar-benar tidak kuat.
“Ke Walanda saja,” katanya lirih.
Saya sempat menyarankan rumah sakit lain.
Rumah sakit besar, megah, terkenal dengan fasilitas modern dan nama yang sering dipuji banyak orang.
Tetapi malam itu, rasa sakit tidak memberi kami banyak pilihan.
“Terlalu jauh… saya sudah tidak tahan,” katanya pelan.
Kalimat itu membuat saya tak lagi membantah.
Kami pun melaju menuju RSUD Maria Walanda Maramis.
Di sepanjang perjalanan, saya hanya berharap satu hal, semoga malam ini kami bertemu orang-orang baik.
Dan saya tidak pernah menyangka, harapan kecil itu dijawab dengan cara yang begitu menyentuh.
Kurang lebih sepuluh menit kemudian kami tiba di Instalasi Gawat Darurat.
Belum sempat saya membuka pintu mobil sepenuhnya, seorang satpam sudah datang menghampiri.
“Pakai kursi roda dulu pak?” tawarnya cepat.
Nada suaranya bukan sekadar formalitas. Ada kepedulian di sana.
