Agama dan Pendidikan

Ini Rangkaian Ritual Momentum Tahun Baru Imlek, Hari Raya Agama Khonghucu

Nabi Kongzi Bersabda: “Di dalam upacara sembahyang, daripada mewah mencolok lebih baik sederhana. Di dalam upacara duka, daripada meributkan perlengkapan upacara, lebih baik ada rasa sedih yang benar”
(Kitab Lun Yu Sabda Suci Jilid III : 4).

Nabi Kongzi bersabda: “Pada waktu sembahyang kepada leluhur, hayatilah akan kehadirannya dan waktu sembahyang kepada Tian(Tuhan) Yang Maha Rokh, hayatilah pula akan kehadirannya. Kalau Aku tidak ikut sembahyang sendiri, Aku tidak merasa sudah bersembahyang.”
(Kitab Lun Yu Sabda Suci Jilid III : 12)

Makna Laku Bakti dalam ajaran agama Khonghucu sangat penting, menjadi “way of life” bangsa Tionghoa walaupun bukan beragama Khonghucu, hal ini disebabkan karena ribuan tahun di Tiongkok sejak era Dinasti Han (220 sebelum Masehi) hingga Tiongkok menjadi Republik, agama Khonghucu menjadi “State Religion” agama Negara dan ujian para sarjana mewajibkan menguasai teks utama kitab suci agama Khonghucu.

Dalam Kitab Xiao Jing (Hauw Keng) tersurat: “Nabi Kongzi bersabda : Sesungguhnya Laku Bakti itu ialah pokok Kebajikan. Daripadanya ajaran agama (Jiao) berkembang. Tubuh, anggota badan, rambut dan kulit diterima dari ayah dan bunda, maka perbuatan tidak berani membiarkannya rusak dan luka itulah permulaan Laku Bakti.

Menegakkan diri hidup menempuh Jalan Suci (Dao), meninggalkan nama baik di jaman kemudian sehingga memuliakan ayah bunda, itulah akhir Laku Bakti (Xiao).

Adapun Laku Bakti itu, dimulai dengan melayani orangtua, selanjutnya mengabdi kepada pemimpin (nusa, bangsa dan negara) dan akhirnya menegakkan diri”

Malam hari jelang perayaan Tahun Baru Imlek, hari Jumat tanggal 9 Februari 2024, tradisi budaya makan bersama keluarga dilakukan di rumah orangtua atau kalau orangtua sudah meninggal dunia dilaksanakan di rumah saudara tertua atau dituakan.

Orangtua, anak dan cucu serta kerabat dekat berkumpul untuk makan bersama dengan makna mempererat hubungan kekeluargaan.

Berharap tidak ada masalah diantara keluarga atau jika ada masalah pertikaian diselesaikan di meja makan saat semua bergembira menyambut perayaan tahun baru Imlek.

Kemudian setelahnya bersembahyang bersama di altar di rumah dan dilanjutkan bersembahyang di Klenteng berjumpa dengan teman dan sahabat serta Bergembira bersama dimalam tahun baru Imlek.

Saat itupula ada tradisi budaya menyalakan kembang api atau mercon.

Tradisi budaya Tionghoa selama ribuan tahun dengan makna spiritual mengusir hal yang jahat dan hawa jahat atau orang-orang yang bermaksud jahat. Bukan sekedar pesta pora belaka.

“Tahun Baru Imlek, Sabtu (10/2/2024) diadakan ungkapan syukur di rumah masing-masing. Sebagian melaksanakan “open house”. Hal ini sebagaimana halnya tradisi setiap tahun yang saya lakukan sebagai wujud membagi berkat diawal tahun baru dengan menyediakan makanan minuman bagi mereka yang datang “pasiar” berkunjung ke rumah umat Khonghucu,” ujar Yosadi.

Sesudah tahun baru dilaksanakan pula berbagai ritual persembahyangan lainnya. Sehari sesudahnya, Minggu

Tanggal 11 Februari 2024, dilaksanakan persembahyangan bagi Malaikat atau Shen Ming (Sien Beng) yang dalam tradisi Tionghoa Manado menyebutnya sembahyang Tapikong Dagang.

Sembahyang wajib bagi para pedagang, pengusaha juga para profesional seperti dokter, notaris, Advokat dan lain sebagainya dengan maksud bersyukur atas tahun yang sudah lewat dan berdoa bermohon berkat disepanjang tahun.

Pada hari Senin dan Selasa, tanggal 13 dan 14 Februari 2024 dilaksanakan ritual persembahyangan yang dimaknai sebagai saat Malaikat Dapur Zhao Jun (Coo Kun) turun.

Hal ini disebut pula dalam tradisi Tionghoa Manado sebagai hari Tapikong turun.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara