Agama dan Pendidikan

Ini Rangkaian Ritual Momentum Tahun Baru Imlek, Hari Raya Agama Khonghucu

Ini Rangkaian Ritual Momentum Tahun Baru Imlek, Hari Raya Agama Khonghucu

Wenshi (Ws) Sofyan Jimmy Yosadi SH

Manado, BeritaManado.com — Tahun Baru Imlek selalu menjadi perhatian masyarakat Sulawesi Utara, tidak hanya bagi kalangan penganut agama Khonghucu, namun juga umat beragama lain.

Dibalik kemeriahan rangkaian kegiatannya, ada satu sisi yang sangat fundamental, yaitu rangkaian ritual yang dilakukan di rumah maupun tempat ibadah yang disebut Klenteng.

Terkait hal ini, Wenshi (Ws) Sofyan Jimmy Yosadi SH selaku Dewan Pakar Pengurus Pusat MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia), Pengurus FKUB Sulut serta seorang Advokat ini memberikan informasinya.

Menurutnya, Tahun Baru Imlek dalam keyakinan umat Khonghucu bukan sekedar tradisi budaya Tionghoa semata.

Ada banyak ritual persembahyangan sebelum tahun baru Imlek hingga 15 hari sesudah Tahun Baru Imlek yang dinamakan Capgomeh.

Tahun Baru Imlek adalah hari Raya Umat Khonghucu sebagaimana tersurat dalam Kitab-Kitab Suci agama Khonghucu Ru Jiao Jing Shu.

Hal menyangkut Tahun Baru Imlek tidak dijumpai dalam kitab suci agama lain seperti kitab suci agama Buddha maupun Tao.

Spiritualitas, ritual keagamaan yang tentu ada banyak hal menyangkut tradisi budaya Tionghoa dimana agama Khonghucu berasal dari Tiongkok dan menyebar keseluruh dunia.

Maka, aspek budaya Tionghoa tentu sangat kental dan mengalami akulturasi dengan budaya setempat dimana agama Khonghucu menyebar ke seluruh dunia.

Tahun 2024 ini, Hari Raya Tahun Baru Imlek 2575 jatuh pada hari Sabtu tanggal 10 Februari 2024.

Angka 2575 dihitung dari usia Nabi Agung Kongzi (Khongcu, Confucius) yang lahir tahun 551 sebelum Masehi ditambah tahun Masehi 2024 maka didapat angka 2575.

Ritual persembahyangan dan persiapan merayakan hari raya sudah dimulai sejak dua minggu sebelum Tahun Baru Imlek yang dirayakan hari Sabtu, 10 Februari 2024.

Rumah-rumah mulai dibersihkan, Klenteng-Klenteng mulai dibersihkan dan dipercantik dengan pemasangan banyak lampion dan pernak-pernik.

Selain dibersihkan juga mulai di cat agar nampak baru dan bersih.

Altar persembahyangan Kan (Kham, dialek Hokkian) bagi Para Shenming (Sien Beng), Nabi Purba (Sheng Huang) dan Para Raja Suci (Sheng Wang) serta orang-orang suci (Sheng Ren), Nabi Kongzi (Khongcu) dengan berbagai visualnya baik berupa Jinshen (Kimsin, dialek Hokkian) atau arca, patung, juga Foto atau gambar.

Demikian pula, altar leluhur dan orangtua yang telah meninggal dunia, Shenzhu Kan (Sienci Kham, dialek Hokkian) juga dibersihkan.

“Di rumah, saya juga melakukan hal yang sama, mulai bersih altar, cuci arca hingga memasang pernak pernik. Rangkaian perayaan tahun baru Imlek sudah dimulai. Kesiapan lahir batin, terutama menjadi sesuatu yang selalu baharu selalu digelorakan. Barang barang bekas dan tidak terpakai wajib dibuang. Menjaga kebersihan sebagaimana bersih lahir batin jasmani maupun rohani,” jelas Sofyan Yosadi.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara