
Penulis: Tim Redaksi
Manado – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara mencatat inflasi year-on-year Juli 2026 sebesar 2,53 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di angka 112,27.
Namun ada kejanggalan yang menarik perhatian: secara bulanan (month-to-month), Sulut justru mengalami deflasi 1,05 persen.
Bagaimana bisa harga “naik” secara tahunan tapi “turun” dibanding bulan sebelumnya?
Kepala BPS Sulut, Dr. Watekhi, menjelaskan bahwa kenaikan tahunan dipicu oleh hampir seluruh kelompok pengeluaran, terutama pendidikan yang melonjak 11,67 persen, disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya 9,66 persen, serta transportasi 5,81 persen.
Sementara deflasi bulanan didorong oleh turunnya harga sejumlah bahan pangan segar seperti cabai rawit, tomat, bawang merah, beras, hingga daging babi — komoditas yang bulan sebelumnya sempat mengalami lonjakan harga.
Namun di balik angka deflasi yang terkesan positif bagi konsumen, ada sisi lain yang patut dicermati.
Guru Besar FEB Unsrat sekaligus Ketua ISEI Cabang Manado, Joy Elly Tulung, dalam opininya menyoroti bahwa turunnya harga cabai, tomat, dan bawang merah justru menekan pendapatan petani hortikultura di Minahasa.
Hal ini tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang turun 2,28 persen dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) yang anjlok 4,35 persen pada Juli 2026 — menunjukkan bahwa deflasi yang meringankan belanja rumah tangga, di sisi lain, menjadi tekanan bagi produsen pangan.
Inflasi tahun berjalan (year-to-date) hingga Juli 2026 tercatat 3,38 persen.
Dari empat wilayah cakupan IHK di Sulut, seluruhnya mengalami inflasi tahunan, dengan Kota Manado sebagai yang tertinggi (3,52 persen) dan Minahasa Utara terendah (1,00 persen).
Pola ini menunjukkan tekanan inflasi Sulut saat ini lebih banyak berasal dari sektor jasa dan pendidikan, bukan dari harga pangan harian yang justru sedang melandai — sementara di sisi produsen, pangan yang melandai itu justru menjadi beban tersendiri bagi petani.
