
Editor: Sri Surya
Harga pangan Sulawesi Utara mengalami tekanan cukup besar pada Oktober 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara mencatat kelompok makanan,
minuman, dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 17,79 persen, dengan
cabai rawit menjadi komoditas penyumbang terbesar mencapai 2,63 persen.
Kenaikan tersebut menjadi perhatian karena kelompok pengeluaran ini
memberikan kontribusi paling besar terhadap inflasi tahunan di Sulawesi Utara.
BPS mencatat andil kelompok makanan, minuman, dan tembakau terhadap inflasi
umum daerah mencapai 5,84 persen.
Kepala BPS Provinsi Sulawesi Utara, Dr. Watekhi, S.Si., MSE menyampaikan data terbaru ini secara daring di akun YouTube BPS Sulut, Senin (2/11/12026).
Berdasarkan Berita Resmi Statistik Nomor 65/11/71/Th. XX tersebut, inflasi tahunan Sulawesi Utara secara keseluruhan mencapai 8,07 persen. Perubahan harga berbagai komoditas pangan menjadi salah satu faktor utama yang membentuk angka inflasi tersebut.
Inflasi Harga Pangan Sulawesi Utara Capai 17,79 Persen
Dalam laporan perkembangan indeks harga konsumen Oktober 2026, BPS mencatat
indeks kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik dari 115,58 pada Oktober
2025 menjadi 136,14 pada Oktober 2026.
Jika dilihat berdasarkan subkelompoknya, makanan mencatat inflasi paling
tinggi, yakni 21,27 persen. Sementara itu, inflasi pada subkelompok minuman
tidak beralkohol sebesar 2,74 persen, minuman beralkohol 1,70 persen, serta
rokok dan tembakau 1,14 persen.
Dari berbagai komoditas yang dipantau, cabai rawit memberikan kontribusi
terbesar terhadap inflasi tahunan kelompok makanan, minuman, dan tembakau,
dengan andil mencapai 2,63 persen.
Setelah cabai rawit, tomat menjadi komoditas berikutnya dengan kontribusi
0,31 persen. Kangkung dan cabai merah masing-masing memberikan andil sebesar
0,28 persen.
Komoditas perikanan juga turut memengaruhi perkembangan harga. Ikan
malalugis atau ikan sorihi memberikan kontribusi 0,21 persen, sedangkan ikan
cakalang atau ikan sisik dan beras masing-masing menyumbang 0,19 persen.
Sejumlah komoditas lainnya juga tercatat memberikan andil terhadap inflasi
tahunan. Daun paku atau pakis menyumbang 0,12 persen, terong 0,11 persen, serta
daun bawang, sawi putih, dan minyak goreng masing-masing sebesar 0,10 persen.
Pisang turut memberikan kontribusi sebesar 0,07 persen.
Di tengah kenaikan tersebut, terdapat pula komoditas yang memberikan andil
terhadap deflasi tahunan kelompok ini. Bawang merah tercatat sebesar 0,02
persen, sedangkan daging babi dan bawang putih masing-masing memberikan andil
sebesar 0,01 persen.
Perkembangan harga pangan pada Oktober 2026 juga terlihat dari pergerakan
inflasi bulanan. BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau
memberikan andil sebesar 0,46 persen terhadap inflasi bulanan Sulawesi Utara.
Berbeda dengan catatan tahunan yang didominasi cabai rawit, tomat justru
menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi bulanan. Andil
tomat tercatat mencapai 0,39 persen, disusul cabai merah sebesar 0,07 persen.
Sementara itu, cabai rawit, daun bawang, beras, dan sawi putih masing-masing
memberikan kontribusi sebesar 0,05 persen. Lemon tercatat menyumbang 0,04
persen, sedangkan daun gedi memberikan andil sebesar 0,03 persen.
Tidak semua komoditas mengalami kenaikan harga. Sejumlah jenis ikan justru
memberikan kontribusi terhadap deflasi bulanan Sulawesi Utara.
Ikan selar atau ikan tude tercatat memberikan andil deflasi terbesar sebesar
0,12 persen. Berikutnya, ikan malalugis atau ikan sorihi menyumbang 0,08
persen, ikan cakalang atau ikan sisik sebesar 0,06 persen, serta ikan deho
sebesar 0,04 persen.
Secara keseluruhan, inflasi bulanan Sulawesi Utara pada Oktober 2026
tercatat sebesar 0,57 persen.
Rangkaian data tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga komoditas pangan
memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan inflasi di daerah. Cabai rawit
mendominasi andil inflasi tahunan, sementara tomat menjadi penyumbang terbesar
dalam perhitungan bulanan.
Perkembangan harga pangan Sulawesi Utara pun menjadi salah satu indikator
penting dalam melihat dinamika inflasi daerah, terutama melalui perubahan harga
komoditas yang tercatat dalam pengeluaran masyarakat.
