
Manado – Kehadiran kembali Jimmy Rimba Rogi atau akrab disapa Imba diyakini akan mengubah konstalasi politik menjelang Pemilu 9 April 2014, bukan hanya Kota Manado namun Hingga Sulawesi Utara. Mantan Wali Kota yang dipidana tujuh tahun karena jeratan Kasus Korupsi APBD 2006-2007, dijadwalkan bebas 6 April 2014.
Menurut pengamat politik dan pemerintahann Taufik Tumbelaka, kehadiran kembali Imba meski hanya 3 hari sebelum pencoblosan, sangat memungkinkan mengubah konstalasi politik di Kota Manado, bahkan hingga Sulawesi Utara.
“Kehadiran Imba merupakan energi baru khususnya bagi Partai Golkar Sulut dan Manado. Meski dijerat karena kasus korupsi, namun ketokohan beliau sudah terbukti, dan sangat berpengaruh,” ujar Taufik, Jumat (4/4/2014).
Selain itu, kata Taufik, sebagai tokoh politik di Manado, Imba masih memiliki pengikut dan basis massa yang jelas.
“Kita belum tahu pasti apakah Imba akan langsung melibatkan diri atau terjun ke politik. Namun partai-partai lain perlu mewaspadai kehadiran Imba, karena meski nantinya Imba berpolitik dari ‘luar pagar’ tapi ketokohan Imba sangat kuat,” katanya.
Namun begitu, lanjut Taufik, masih perlu dilihat apakah DPD Partai Golkar Sulut dan DPD Partai Golkar Manado mau langsung merangkul Imba untuk terlibat dalam Pemilu 2014 ini, mengingat keputusan ada pada pimpinan DPD masing-masing.
Taufik menambahkann kejutan atau gebrakan Imba yang perlu ditunggu dan bisa menjadi manuver politik adalah ketika Imba menemui dan mengumpulkan pengikut, simpatisann keluarga dan relasi politiknya. ” Seperti syukuran bersama seluruh kerabat, keluargan dan simpatisan,” tukas Taufik. (semuelsumandap)

Kehadiran bapak Imba patut disyukuri dan dihormati sebagai orang yang berjasa dalam pembangunan di manado,tetapi kelemahan beliau telah mencedrai nilai2 kejujuran dan keadilan. Karena itu baiklah jika bapak Imba menjadi bagian utuh masyarakat Manado,bukan bagian dari kelompok tertentu.
Ini Taufik ngigau melulu……..Mimpi kaleee yeehhh..
Butul noh komentar tu pengamat ini asal asalan. Masakan baru bebas menjalani hukuman kong seolah olah musti diperhitungkan di konstelasi politik. Ybs mgkn ndak sampe situ tu bapikir mar tu pengamat satu ini tambah2 dgn analisa dia pemau sandiri yg tdk berbobot.
Butul tu dia ini pengamat picisan dia pe pendapat