Manado – Pelaksanaan Hari Ulang Tahun (HUT) Pemuda GMIM yang kemudian digeser menjadi hari Sabtu padahal sebanarnya pada Paskah kedua mengundang perhatian tokoh pemuda GMIM, salah satunya Sekretaris Pemuda Sinode GMIM periode 2010-2015, Pnt Herman Mengko SIP MSi.
“Apapun alasannya, pemuda GMIM jangan melupakan sejarah. Pemuda dan remaja memiliki histori tersendiri dan perayaan ulang tahun nya pun berbeda, apalagi remaja memiliki hari persatuan remaja. Coba saja kalau HUT Sinode GMIM perayaan dirubah tanggalnya, atau Natal digeser Januari, ini esensi penting.,” ujar Pnt Herman Mengko.
Menurutnya, sangat bijak apabila kegiatan pemuda GMIM tetap pada tanggal dan faedahnya. “Kalau kegiatan lain menyesuaikan bisa saja, tapi HUT Pemuda GMIM itu sudah pasti di Paskah kedua, itu makanya pemuda GMIM memakai jubah ungu, jubah pengorbanan, jubah mempersatukan, jubah semangat akan iman, berkorbar karena pengorbanan Kristus,” urainya lagi.
Menurut informasi memang Komisi Pemuda Sinode kemudian menyesuaikan tanggal karena kesepakatan dengan Komisi Remaja Sinode, hal ini yang kemudian memicu kritik dimana HUT Pemuda GMIM ke 90 tahun ini harusnya jatuh pada hari Paskah kedua.
Ketua Komisi Pemuda Sinode GMIM dua periode (1995 – 2000 dan 2000 – 2005) yang kini Anggota DPD RI, Ir. Marhany Pua, MA menyesalkan perayaan HUT Pemuda GMIM tidak dilaksanakan pada Paskah kedua.
“HUT Pemuda GMIM sangat menyatu dengan perayaan Paskah kedua, itu sudah diarayakan puluhan tahun. Apabila tahun ini HUT Pemuda GMIM tidak dirayakan di Paskah kedua, perlu diluruskan. Perayaan HUT Pemuda GMIM ada dalam momentum Paskah, kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Hari kemenangan,” tegas Pua.
Senada Ketua Pemuda Sinode GMIM 2 periode 2005-2015 Pnt. Billy Lombok SH pun memberikan pendapat tajam.
“Kunci jawabannya ada pada perhatian Komisi Pemuda Sinode GMIM terhadap sejarah pemuda GMIM itu sendiri, saya dengar sudah diputuskan lewat Sidang Sinode, padahal di momen tersebut tiap komisi diberikan kesempatan pandangan dan mempertahankan hasil konsultasi masing-masing. Sangat disayangkan apabila pemuda GMIM dalam Sidang Sinode itu tidak mengerti sejarah, ini penting mengingat akan menjadi preseden yang di ingat oleh kader pemuda GMIM, nanti sejarah bisa bergeser, oh nda pasti kote depe tanggal dang, boleh di rubah rubah, lama-lama sejarah GMIM itu sendiri menjadi bias. Ingat GMIM itu bukan Ormas yang bisa disesuaikan sejarahnya atau organisasi yang datang tiba tiba, ini Gereja dan Gereja harus berada pada proporsinya, sejarah jangan dirubah,” pungkas Lombok yang saat ini duduk sebagai anggota DPRD Sulut ini. (jerrypalohoon)

Ini jelas memalukan, generasi yang tidak mengingat sejarah lagi.
Sejarah bonsdaag, sejarah pemuda kristen minahasa, yang kemudian menjadi semangat BIPRA GMIM, serta merta di lupakan, alasannya sepele, ingin menyesuaikan agar tidak ada 2 agenda yang dilaksanakan bersamaan.
Pertanyaannya :
1. So bagimana so, klo 2 kegiatan pun dilaksanakan bersamaan, pengalaman sejarah membuktikan, pun pemuda remaja mengadakan kegiatan bersamaan di kab/kota yang berbeda, tidak terjadi kerusuhan, justru terpancarkan bagaimana kegiatan GMIM itu sendiri.
2. Ok, klo pun para presbyter turut pula memutuskan, memisahkan pemuda dan remaja pada perayaannya dengan argumentasi masing masing di sidang sinode, tetaplah bahwa Pemuda GMIM hari ulang tahunnya tidak bisa bergeser ke hari lain selain paskah ke 2, berbeda dengan remaja GMIM yang punya hari persatuan yang berbeda, pemuda GMIM memang lahir dari paskah kedua ( baca : sejarah pemuda Kristen Minahasa, bonsdaag, yang kemudian menjadi sejarah GMIM, sejarah bagaimana kiprah BIPRA dimulai, jadi bukan menjadi hal yang simple ketika menggeser hari perayaan pemuda, karena hari itu sendiri kaya akan makna dan historisnya )
3. Apa yang terjadi di sidang sinode GMIM, apa yang diketahui/apa yang dikerjakan oleh pimpinan komisi pemuda sinode GMIM yang hadir sebagai salah satu pimpinan sidang/pimpinan sinode GMIM, saat keputusan ini akan di buat, kenapa sejarah ini tidak di jelaskan, sebagai pimpinan memang dituntut lebih, perlu tahu dan matang seluk beluk pemuda GMIM, perlu tergambar kebanggaan pemuda GMIM nya, menyandang jas ungu punya tanggung jawab memikul sejarahnya bukan hanya memikul statusnya, perlu diluruskan tentang pemahaman pimpinan komisi tentang sejarah pemuda GMIM, lama kelamaan citra ini akan turun ke anggotanya, tradisi lupa/tidak tahu akan menjadi terus menerus terjadi, generasi instan dan tak mau belajar akan terus menerus memimpin pemuda GMIM, lambat laun menghapus esensi penting dari organisasi ini.
4. Komunikasi tidak terbangun di pemuda GMIM terlihat nyata, sah sah saja bila pimpinan komisi pemuda sinode menyatakan kenapa tidak sampaikan langsung sikap ini, ini sudah terlanjur menjadi keputusan lembaga ( yang menurut kami sudah terlanjur pula melewati norma sejarah ), cara mengklarifikasinya yakni lewat media, agar klarifikasi utuh tidak sepenggal tentang sejarah akan kemudian dibaca oleh seantero anggota pemuda GMIM. Orang yang ANTI KRITIK akan menjawab sinis ( katanya kami kase contoh yang nda bagus muat di media, cuma kase nae oplah ) , tapi orang yang menjadi PEMIMPIN SEJATI akan menjawab maaf kami sudah keliru dan akan kembali belajar ( ini ciri khas pemimpin, padahal pimpinan komisi pemuda sinode GMIM sudah menjadi pembicara di mana mana, katanya menjadi teladan, katanya simbol dari organisasi ini tapi kenyataannya sejarah nya pun tidak paham, cara memahami kritik membangun pun tidak open minded )
Selamat ulang tahun pemuda GMIM di hari paskah kedua, mohon maaf kalau kami merasa perlu mengklarifikasi, sebelum semua hal ini menjadi bias, menjadi sejarah baru yang bukan sejarah orisinilnya.