Andi Achdian, sejarawan sekaligus dosen Sosiologi Universitas Nasional, menjelaskan marxisme masuk ke Indonesia pada peralihan abad 19 ke 20.
Saat itu, seorang sosialis dari Belanda, Henk Sneevliet mendirikan Indische Social Democratische Vereniging (ISDV).
ISDV merupakan organisasi pertama berhaluan Marxisme-Leninisme yang berdiri di Indonesia—saat itu masih Hindia Belanda.
Organisasi tersebut muncul di tengah penjajahan Belanda yang semakin menindas.
Para sosialis berhaluan kiri dalam organisasi itu mendorong kolonial Belanda—yang di parlemen negeri asalnya tengah dikuasai kaum liberal—melakukan politik etis (etische politiek) atau juga dikenal dengan politik balas budi kepada negeri jajahannya.
Politik etis meliputi perbaikan sistem irigasi, kependudukan, serta pendidikan.
Meski kebijakan ini sebenarnya untuk intensifikasi serta memangkas ongkos bisnis kolonial, turut pula memunculkan kaum cerdik cendekia Indonesia dan perkenalan mereka dengan marxisme.
Achdian mengatakan kepada Suara.com, marxisme selalu muncul dalam situasi adanya ketertindasan, “Karena marxisme satu-satunya ide yang memberikan perlawanan terhadap kolonialisme.”
ISDV mempunyai hubungan yang cukup erat dengan organisasi Sarekat Islam (SI) di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto.
Pasca kongres kedua SI tahun 1915 di Yogyakarta, sejumlah tokoh muda SI bahkan menyatakan bergabung dengan ISDV.
Mereka ialah Semaun, Mas Alimin Prawirodirdjo dan Darsono Notosudirdjo.
Ketiga orang itu tidak dikeluarkan dari SI. Sebab, organisasi tersebut tidak menerapkan disiplin partai yang saklek, sehingga anggotanya dibebaskan untuk mengikuti organisasi lain secara bersamaan.
Dobel keanggotaan tersebut memunculkan faksi ‘SI Merah’ yang berisi orang-orang berhaluan kiri.
Faksi ini menilai ketertindasan masyarakat disebabkan kaum borjuis dan kapitalis.
Sementara di ISDV, Semaun dan orang-orang SI merah memegang tampuk kepemimpinan pada 1920-an.
Pada kongres terakhir ISDV, Semaun Cs mengubah nama organisasi menjadi Perserikatan Komunis Hindia (PKH), cikal bakal PKI.
Soe Hok Gie dalam bukunya yang berjudul ‘Di Bawah Lentera Merah, Riwayat Sarekat Islam Semarang 1917-1920’ menuliskan pergantian nama dari PKH menjadi PKI adalah upaya pengindonesiaan gerakan marxisme.
PKI, hingga era 60-an memiliki banyak pengikut, terutama dari kalangan buruh dan petani.
