Berita Utama

Gen Z Berpandangan, Marxisme Makin Dilarang Justru Kian Menantang

Dia merasa beruntung teknologi informasi semakin pesat berkembang, sehingga pengetahuan apa pun bisa lebih mudah didapat, termasuk soal marxisme.

Atan merasa hal itu juga yang membuat generasi sekarang lebih kritis.

Meski ada larangan dan narasi menakut-nakuti dari pemerintah, ia dan orang di sekelilingnya bisa mengetes ulang serta mencari tahu kebenaran.

“Saat ini diskusinya cukup beragam dan sudah tidak lagi sama dengan generasi sebelumnya yang cukup take isu komunisme dan marxisme for granted dari negara aja,” kata dia.

Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara UI angkatan 2021, Cesar Sanabil Pasya juga mengaku tak begitu asing terhadap marxisme.

Dalam perkuliahan, dia menerima kajian marxisme pada mata kuliah ‘Politik Masyarakat’.

Di luar itu, marxisme banyak dia temui dalam produk-produk kebudayaan populer seperti film series.

Dari marxisme, Cesar belajar mengenai arti kesetaraan.

Sebagaimana yang diajarkan Marx, semua manusia berhak setara dalam hal apa pun, utamanya ekonomi dan sosial.

Tidak boleh ada ketimpangan dan penindasan.

“Marxisme pada dasarnya identik dengan perjuangan kesetaraan sosial,” ujar Cesar.

Cesar mengakui marxisme di Indonesia masih dianggap tabu.

Dia menduga salah satunya karena narasi yang selama ini diproduksi adalah adalah hal-hal negatif dari marxisme dan komunisme.

“Mungkin kalau kita lihat, banyak individu per individu yang mempelajari ide marxisme ini. Namun ketika ide tersebut diutarakan secara masif di depan publik, kebanyakan orang akan memperlihatkan ekspresi kurang menyenangkan.”

Pasang surut marxisme di Indonesia

MARXISME bukan pemikiran baru di Tanah Air.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, paham ini banyak mengilhami kaum pergerakan anti-kolonial Belanda.

Bahkan sebagian besar tokoh bangsa mempelajarinya.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara