
SANGIHE, BeritaManado.com – Politeknik Negeri Nusa Utara (Polnustar) dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan forum group diskusi untuk menyerap dan mengidentifikasi masalah-masalah di pesisir pantai kampung Salurang, Jumat (1/8/2025).
Kegiatan ini diikuti oleh Pemerintah Kampung, masyarakat Kampung Salurang, masyarakat nelayan dan Tokoh masyarakat.
Ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan mendesain infrastruktur penahan erosi di kampung Salurang.

Pakar Teknik Pantai dari ITB, Dr Eng Nita Yunita, menyampaikan bahwa desain infrastruktur hibrida dengan kombinasi tanggul buatan manusia dan mangrove dapat menjadi alternatif efektif untuk menahan erosi.
“Untuk mengatasi salah satu masalah urgen di Salurang saat ini yaitu rusaknya tanggul pelindung kampung Salurang ialah dengan menggunakan teknik Bio-Bag,” ujarnya.

Solusi ini akan diwujudkan melalui kolaborasi erat berbagai pihak.
“ITB akan menyediakan Bio-Bag, Polnustar untuk kajian lingkungan termasuk data batimetri, sedangkan masyarakat akan menyediakan pasir hasil sedimentasi untuk mengisi Bio-bag,” jelas Dr Nita.
Konsep ini diperkuat oleh pandangan Prof Dr Devi N Choesin, seorang pakar ekologi lahan basah dari ITB, yang menyoroti peran vital mangrove sebagai tanggul alami.
Menurutnya, mangrove tidak hanya mampu menahan gelombang besar tetapi juga berfungsi sebagai habitat bagi keanekaragaman hayati laut.
“Selain mencegah erosi, rehabilitasi mangrove juga akan meningkatkan keanekaragaman hayati dan pendapatan nelayan serta objek wisata,” tutur Prof Devi.

Sementara itu, Dr. Walter Balansa yang mewakili tim Polnustar, menekankan krusialnya keterlibatan masyarakat Salurang dalam keberhasilan jangka panjang proyek ini, khususnya dalam perawatan mangrove.
Dalam Focus Group Discussion (FGD) yang membahas berbagai permasalahan masyarakat Salurang, Dr. Walter menegaskan komitmen bersama untuk memprioritaskan penanganan tanggul.
“Kami telah bersepakat dengan Tim ITB untuk berfokus pada masalah pembuatan tanggul dari Bio-bag saat ini dan akan mengkaji permasalahan-permasalahan lain setelah permasalahan tanggul itu,” ungkapnya.”
Masyarakat dan Tokoh Masyarakat salurang menyambut positif kegiatan ini.
“Terima kasih Polnustar dan ITB yang sudah mendengar curhatan kami dan menampung masalah di kampung kami, semoga dapat terealisasi kegiatan ini sehingga pantai kami terlindungi” kata Pdt Tapadongka, seorang Tokoh Masyarakat.
Tim juga melakukan tinjauan langsung ke Lokasi pesisir yang mengalami kerusakan akibat erosi dan abrasi.
Kegiatan ini juga di hadiri oleh Ir. Julius Wuaten , S.Pi, M.Si (Ketua Jurusan Perikanan dan Kebaharian), Dr. Getruida N. Mozes (Dosen Polnustar), Frets J. Rieuwpassa, M.Si (Penanggung Jawab keseluruhan kegiatan pengabdian) dan Pencinta Alam Anemon serta Para alumni Polnustar.
(***/Jhonli Kaletuang)
