
Penulis: Mega Anggawirya Zas | DPRD Sulut
Aksi unjuk rasa bertajuk “Sulut Menyambut Revolusi” di depan Kantor DPRD Sulawesi Utara (Sulut berlangsung ricuh setelah massa aksi berupaya memasuki halaman gedung dewan dengan mendobrak pagar pembatas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi, para demonstran menyampaikan berbagai tuntutan yang mencakup isu nasional maupun lokal. Situasi memanas ketika massa mencoba menerobos masuk ke area kantor DPRD Sulut, sehingga memicu respons aparat keamanan.
Aparat kepolisian yang bersiaga dengan perlengkapan pengendalian massa kemudian melakukan tindakan pengamanan dengan menyemprotkan water cannon serta melepaskan gas air mata untuk membubarkan kerumunan dan mengendalikan situasi.
Dalam aksinya, massa menyuarakan sejumlah isu nasional, di antaranya tuntutan terkait pemerintahan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran, restrukturisasi kabinet, pemangkasan anggaran lembaga negara, penolakan terhadap Koperasi Merah Putih, revisi UU Polri, penolakan militerisme di ranah sipil, penolakan proyek strategis nasional di Papua, desakan agar pasokan BBM subsidi tersedia secara nasional, serta penghentian berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia.
Selain itu, demonstran juga membawa sejumlah isu lokal yang dinilai penting bagi masyarakat Sulut. Tuntutan tersebut meliputi penolakan terhadap dugaan perampasan ruang hidup masyarakat, dorongan publikasi draft RTRW, perhatian terhadap kenaikan harga bahan pokok, desentralisasi pendapatan daerah, evaluasi Program Trans Manado, penuntasan kasus pelecehan seksual di Sulut, serta penolakan pengelolaan MBG oleh kampus.
