Kedua, butuh teknologi untuk mekanisasi pertanian. Tentunya dengan pendampingan agronomis dan budidaya.
Ketiga, begitu panen masuk fase off-farm maka harus ada pengolahan pasca panen, pemberian modal kerja seperti KUR, distributor financing, kemudian menyediakan off taker, kemudian capacity building dan workshop.
Keempat, lanjut Sunarso menjelaskan, untuk membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan harus ada project leader untuk supervisi bisnis, hingga koordinasi kegiatan.
“Hal ini pun perlu disokong oleh berbagai pihak diantaranya banking dan financial institution untuk pendanaan. Kemudian penguatan sarana produksi, teknologi research and development, perlu adanya pendampingan budidaya dan off taker, dan harus di-cover asuransi supaya untung dan aman. Hal ini sudah ada semuanya pada ekosistem Program Makmur Kopi yang kami jalankan di PMO Kopi Nusantara,” pungkasnya.
Ketua SCAI, Daryanto Witarsa, menjelaskan bahwa ajang kompetisi dan pameran seperti ini akan terus di lakukan di Indonesia.
“Antusiasme masyarakat Indonesia dalam pengembangan industri kopi nasional sangat besar. Kita harus wadahi antusiasme ini dengan baik agar bisa menjadi mendorong potensi Indonesia menjadi kiblat kopi dunia,” ucap Daryanto yang juga aktif sebagai Wakil Ketua II PMO Kopi Nusantara.
(***/srisurya)
