
MANADO – Kinerja sekretariat DPRD Sulut patut dipertanyakan. Pasalnya, ketika sebagian anggota dewan sementara melakukan kunjungan kerja ke luar daerah, para abdi negara ini juga ikut meliburkan diri. Pantauan wartawan, pasca paripurna penetapan APBD 2012 Selasa lalu, semenjak kemarin hingga Kamis (27/10) hari ini, sebagian besar pegawai terutama di bagian umum dan staff komisi tak nampak.
“Ini sudah menjadi kebiasaan. Jika anggota dewan tugas luar, mereka juga ikut libur. Kalaupun hadir, paling-paling pulang cepat sebelum jam pulang,” tutur Martino Limpong, Ketua Forum Wartawan DPRD Sulut.
Bukti lain, Selasa (26/10) kemarin saat beberapa anggota dewan menerima aspirasi masyarakat Bumi Nyiur, tak satupun staff komisi melayani masyarakat yang membawa aspirasi. “Biasanya setiap ada aspirasi yang dibahas di ruang rapat, pasti ada pelayanan komsumsi. Namun kemarin tidak ada, karena staf pulang cepat,” tambah Limpong. (jry)

Menurut harian MP 27 Okt.2011 hal.10, 3 Legislator Tidak Dapat Visa! Puji Tuhan, setidaknya masih ada uang rakyat yang terselamatkan (untuk sementara…)
Kalau Legislator pasiar berjamaah dengan Pemprov, mungkin bisa dipertanyakan hal mengenai pembahasan APBD Sulut 2012 yang konon katanya sangat cepat: hanya 1 minggu!!!
Wah, jangan2 memang sudah ada “kesepakatan” di balik layar. Salah satu “kesepakatan” tsb mungkin berupa “anggaran pasiar…eh…studi banding” di akhir tahun ini ataupun di tahun berikutnya….
Apakah pasiar berjemaah ke DEMA Show tahun ini juga merupakan hasil “kesepakatan” tahun lalu? Entahlah…. hanya Tuhan & para pelaku yang tahu.
Saya sudah banyak mengunjungi banyak tempat-tempat wisata di Planet ini,
masing masing mempunyai keindahan dan keunikan tersendiri. Pantai Orlando
Florida yang indah dengan Disney World nya adalah salah satu tempat favorite.
Minahasa Sulut tercinta dengan Bunakennja mempunyai keindahan dan keuni
kan tersendiri.Sudah seharusnya di promosikan di dunia internasional dan
mengambil contoh/membandingkan dengan yang lain. Tapi jangan ada yang
nebeng jalan jalan pakai uang rakyat ne!!! Kasiaaaaang!!!
Adoh! Dewan bukan cuma berangkat kunjungan kerja ke luar daerah kasiang. Coba cek keberadaan Ketua DPRD Sulut, 2 Ketua Komisi dan bbrp anggota DPRD lainnya sekitar 3 orang. Minimal ada 6 (seperti disebutkan barusan) anggota Dewan yang akan ke Amerika Serikat.
Alasannya sih: mengikuti iven DEMA Show di Orlando-Florida. Ini adalah iven kelas dunia untuk diving (http://www.demashow.com/dema2011/public/enter.aspx). Ke-6 anggota Dewan ini akan berangkat ke sana bersama rombongan yang totalnya 24 orang. Selain Dinas Pariwisata Sulut (yang memang harus pergi ke sana untuk promosikan Sulut), ternyata ada beberapa Kepala Dinas dan bahkan staf dari Pemprov yang masuk dalam rombongan itu tetapi tidak ada kaitannya dengan pariwisata sama sekali, apalagi diving!
Dengan segala hormat, selain Dinas Pariwisat Sulut, apa sih yang bisa dilakukan (baca: kontribusi) oleh para peserta lainnya? Untuk mengikuti iven DEMA itu harus didaftar dari jauh2 hari dan harus ada kaitannya dgn dunia menyelam.
Nah, kalau bukan untuk pasiar/jalan2, apa lagi yang dilakukan oleh mereka?
Ini adalah pemborosan uang rakyat. Walaupun katanya dianggarkan di APBD, tetapi tetap saja itu uang rakyat.
Berapa perkiraan dananya? Untuk tiket pesawat saja sudah sekitar US$2,000. Hotel sekitar $150/malam, kalau dikalikan 7 malam = $1,050. Itu saja sudah sekitar 3,000 dollar, belum termasuk uang makan, SPPD, dll.
Ambil nilai minimal 3,000 dollar dikalikan kurs Rp 9.000 = 27 juta rupiah/orang. Kalau dikalikan 24 orang = 648 juta rupiah!! Dan ini baru perkiraan untuk tiket & hotel, belum termasuk yang lain itu!!!
Alamak!!! Di mana “sense of crisis” atau kepedulian mereka terhadap berbagai kemiskinan dan parahnya infrastruktur di Provinsi tercinta ini?
Lucunya lagi, ketika ditanyai tentang biaya/program promosi untuk Bunaken atau obyek pariwisata lainnya maka akan muncul jawaban standar: TIDAK ADA ANGGARAN!!!
Selain pemborosan, nama Sulut juga akan dipermalukan di depan para peserta dari provinsi lainnya serta di mata pelaku bisnis diving di dunia….
Psssttt…. Sulut ternyata banyak uang tuh! Lihat saja, Sulut mampu mengirimkan 24 orang PENINJAU ke sini… Ck.. ck.. ck.. (Mungkin begitulah “decak kagum” para peserta DEMA lainnya….)
Silakan tanyakan ke kantor SekDaProv mengenai Daftar 24 Peserta ke DEMA tersebut di atas. Daftarnya ditandatangani langsung oleh Yth. Pak SekDaProv. Nama Beliau ada di paling atas, apakah itu artinya sebagai Ketua Rombongan?
Semoga Daftar tersebut tidak berubah ataupun “tiba-tiba terselip” entah di mana….
Adoh! Dewan bukan cuma berangkat kunjungan kerja ke luar daerah kasiang. Coba cek keberadaan Ketua DPRD Sulut, 2 Ketua Komisi dan bbrp anggota DPRD lainnya sekitar 3 orang. Minimal ada 6 (seperti disebutkan barusan) anggota Dewan yang akan ke Amerika Serikat.
Alasannya sih: mengikuti iven DEMA Show di Orlando-Florida. Ini adalah iven kelas dunia untuk diving (http://www.demashow.com/dema2011/public/enter.aspx). Ke-6 anggota Dewan ini akan berangkat ke sana bersama rombongan yang totalnya 24 orang. Selain Dinas Pariwisata Sulut (yang memang harus pergi ke sana untuk promosikan Sulut), ternyata ada beberapa Kepala Dinas dan bahkan staf dari Pemprov yang masuk dalam rombongan itu tetapi tidak ada kaitannya dengan pariwisata sama sekali, apalagi diving!
Dengan segala hormat, selain Dinas Pariwisat Sulut, apa sih yang bisa dilakukan (baca: kontribusi) oleh para peserta lainnya? Untuk mengikuti iven DEMA itu harus didaftar dari jauh2 hari dan harus ada kaitannya dgn dunia menyelam.
Nah, kalau bukan untuk pasiar/jalan2, apa lagi yang dilakukan oleh mereka?
Ini adalah pemborosan uang rakyat. Walaupun katanya dianggarkan di APBD, tetapi tetap saja itu uang rakyat.
Berapa perkiraan dananya? Untuk tiket pesawat saja sudah sekitar US$2,000. Hotel sekitar $150/malam, kalau dikalikan 7 malam = $1,050. Itu saja sudah sekitar 3,000 dollar, belum termasuk uang makan, SPPD, dll.
Ambil nilai minimal 3,000 dollar dikalikan kurs Rp 9.000 = 27 juta rupiah/orang. Kalau dikalikan 24 orang = 648 juta rupiah!! Dan ini baru perkiraan untuk tiket & hotel, belum termasuk yang lain itu!!!
Alamak!!! Di mana “sense of crisis” atau kepedulian mereka terhadap berbagai kemiskinan dan parahnya infrastruktur di Provinsi tercinta ini?
Lucunya lagi, ketika ditanyai tentang biaya/program promosi untuk Bunaken atau obyek pariwisata lainnya maka akan muncul jawaban standar: TIDAK ADA ANGGARAN!!!
Selain pemborosan, nama Sulut juga akan dipermalukan di depan para peserta dari provinsi lainnya serta di mata pelaku bisnis diving di dunia….
Psssttt…. Sulut ternyata banyak uang tuh! Lihat saja, Sulut mampu mengirimkan 24 orang PENINJAU ke sini… Ck.. ck.. ck.. (Mungkin begitulah “decak kagum” para peserta DEMA lainnya….)
Silakan tanyakan ke kantor SekDaProv mengenai Daftar 24 Peserta ke DEMA tersebut di atas. Daftarnya ditandatangani langsung oleh Yth. Pak SekDaProv. Nama Beliau ada di paling atas, apakah itu artinya sebagai Ketua Rombongan?
Semoga Daftar tersebut tidak berubah ataupun “tiba-tiba terselip” entah di mana….