
Manado — Tim kesenian musik tradisi SMP Negeri 3 Manado menjadi satu-satunya utusan Sulawesi Utara yang meraih predikat penyaji terbaik di ajang Festival Lomba Seni Siswa (FLS2N) tingkat nasional di Surabaya pada medio 2017 yang lalu.
Mendapat penghargaan prestisius tersebut, Tim Kesenian justru mendapat kekecewaan saat kembali ke Manado, yaitu tidak adanya informasi yang disampaikan pihak official Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) provinsi Sulawesi Utara kepada Kepala Diknas Gemmy Kawatu sehingga tidak ada penghargaan ataupun ucapan selamat yang diterima atas kerja keras selama satu tahun.
Kepada BeritaManado.com, manager tim Hari Malomba mengatakan, hingga saat ini tidak ada panggilan dari manapun terkait prestasi yang diterima.
“Tidak ada. Penyerahan hadiah atau ucapan selamat itu tidak ada sampai sekarang,” kata Hari.
Senada dengan itu, pelatih tim, Adijaya Pertama menyayangkan kurangnya penghargaan terhadap seni budaya di Sulawesi Utara khususnya bagi warga biasa yang berprestasi.
“Di daerah lain sampai di undang di upacara, diserahkan piala dan ucapan terima kasih. Disini, kami tidak diperlakukan seperti itu. Cemburu tentu saja. Kami kerja keras bertahun-tahun untuk mendapatkan itu. Tidak perlu lah terlalu megah, ada perhatian saja cukup, tapi kenyataannya tidak demikian. Kalau pun di undang isi acara, bayaran kami itu sering tidak didapat sehingga kami sering berhutang sewa kendaraan. Tapi yah kondisi kita di Sulawesi Utara sepertinya memang begitu. Semoga kedepan lebih baik, dan penghargaan terhadap musisi daerah khususnya tradisional boleh ada,” jelasnya.
Terkait hal tersebut, media ini pernah mengkonfirmasi kepada Gemmy Kawatu, jawabannya adalah masih akan di cek dan ditindaklanjuti.
“Akan ditindaklanjuti,” ucapnya.
(rds)
