
Manado, BeritaManado.com – Dibalik derasnya hujan yang mengguyur seluruh Kota Manado, ada cinta yang mengalir deras dari hati Senator Maya Rumantir bersama anak-anak panti dan lansia.
Perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine Day), Sabtu (14/2/2026) kemarin di Kota Manado diwarnai dengan hujan deras, sehingga situasi tersebut sedikit membuat berbagai perayaan yang sama sedikit terhalang, namun tidak bagi Senator Maya Rumantir.
Meski langit Manado diguyur hujan beras Sabtu siang kemarin, hal itu tidak menyurutkan Maya Rumantir untuk berbagi kasih dengan anak panti dan para Lansia.
Dingin yang terasa menembus kulit tidak mampu memadamkan cinta dan kehangatan di Bukit Doa Sabda Karombasan, Manado.
Ada warna lain yang dilakukan Senator Maya Rumantir daripada tradisi umum yang dilakukan banyak orang di hari kasih sayang tersebut.
Saat banyak orang berbagi dengan pasangannya, teman dan sahabat, Maya Rumantir memilih jalan yang sama sekali masih asing dalam pandangan masyarakat umum.
Anggota Komite IV Dewan Perwakilan Daerah RI ini merajut cinta dalam sebuah gerakan dan perbuatan nyata yang menyentuh sisi kemanusiaan dari orang-orang ‘terisolasi’ dari kehangatan cinta dari keluarga pada umumya.
“Bagi saya Valentine Day harus menjadi momentum dimana kita yang diberi karunia dan berkat Tuhan harus berani memaknai momentum-momtentum krusial untuk memperkuat simpul persaudaraan antar sesama anak bangsa dengan cinta yang setulus-tulusnya,” ungkap Maya Rumantir.

Keberadaan anak-anak yatim piatu, lansia serta Laskar Merah Putih menyuguhkan nuansa harmoni sebagai implementasi filosofi cinta kepada sesama yang merupakan fondasi utama dari apa yang dinamakan nasionalisme yang sehat.
“Tidak mungkin bagi seseorang yang mengaku mencintai bangsanya sendiri, namun tidak mampu mengasihi mereka yang berkekurangan dan membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Di momentum Valentine Day ini menjadi manifestasi cinta kasih Ilahi,” katanya.
Momen indah itu dibalut dengan ibadah oikumene yang dilaksanakan sebagai tujuan utama acara yang berlangsung dengan penuh syukur dan gembira.
Dalam kebersamaan tersebut, pujian syukur yang diungkapkan melalui nyanyian akhirnya mengalahkan derasnya hujan yang menerpa atap bangunan yang menjadi rumah bersama yang penuuh cinta.
Gembala Joice Oroh dalam refleksinya mengungkapkan pesan yang sangat mendalam, dimana diingatkan bahwa esensi kasih sejati adalah relasi yang memiliki tiang penyangga ketulusan tanpa ada embel-embel kepentingan tertentu.
Gembala Joice Oroh menekankan bahwa kasih merupakan perbuatan tanpa pamrih, sebagaimana diajarkan dalam firman Tuhan.
Ia mengutip Firman Tuhan dalam 1 Korintus 13, dimana dijelaskan bahwa kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Kasih yang tulus tidak menuntut balasan atau pengakuan duniawi, melainkan mengalir secara alami sebagai bentuk ketaatan kepada Sang Pencipta.
Refleksi ini memperkuat komitmen para hadirin untuk menjadikan cinta sebagai gaya hidup harian, bukan sekadar perayaan tahunan yang bersifat sementara.
Ketulusan itu tercermin nyata dalam interaksi Maya Rumantir dengan para lansia dan anak yatim yang hadir. Beliau tidak menjaga jarak, melainkan merangkul mereka layaknya keluarga sendiri, membuktikan bahwa jabatan senator tidak menghalangi nurani untuk melayani.
