Tapi melihat semangat juga yang kuat, BW Lapian langsung memberikan dukungan dan mengatur strategi.
Sampailah pada puncak perjuangan 14 Februari 1946, dimana Ch Ch Taulu, SD Wuisan dan lain-lain ditangkap oleh Belanda, akan tetapi aksi merebut kemerdekaan tetap dilakukan.
Mambi Runtukahu ditugaskan untuk memimpin sementara perebutan kekuasaan dengan menguasai Tangsi Teling.
Aksi ini berjalan dengan aman dan lancar dan tidak menyebabkan terjadinya tembak menembak apalahi pertumpahan darah.
Setelah berhasil membebaskan Ch Ch Taulu, SD Wuisan di Tangsi Putih, Runtukahu kemudian menyerahkan kepemimpinan kepada Ch Ch Taulu.
Mulai saat itu dilakukan penangkapan terhadap pimpinan militer Belanda yang mulanya mengamankan Sersan Mayor Wisjzier yang berada di Tangsi Putih selanjutnya menangkap Kapten Bloom yang rumah dinasnya berada di Sario, sementara yang lain membebaskan para tahanan dari kalangan sipil dan tokoh pemuda.
Setelah itu para pejuang menguasai daerah di luar Manado seperti tempatan tahanan tentara Jepang di Wangurer Bitung, kemudian ke Tomohon tempat kediaman Letkol De Vries dan Tondano yang jadi markas Polisi Belanda.
Selain itu juga ke Bolaang Mongondow sampai Gorontalo, sehingga aksi ini langsung menjadi perhatian dunia setelah disiarkan Radio Brisbane Australia yang menangkap berita yang disiarkan Mr Robert Ensleih seorang markonis kapal barang SS Luna berkebangsaan Australia.
Dari siaran radion Brisbane ini aksi tersebut diketahui kantor berita di Makassar, Jogyakarta, San Fransisco AS dan Belanda dan juga langsung ditanggapi oleh Presiden Soekarno yang berada di Jogyakarta, sehingga pada akhirnya menjadi berita utama sejumlah surat kabar yang ada di Jakarta.
Sekutu memberi perhatian khusus terhadap aksi ini karena mengkhawatirkan keselamatan para tahanan perang Jepang.
Karena ini menjadi kesepakatan berakhirnya Perang Dunia II, meski akhirnya perlawanan Ch Ch Taulu bisa ditumpas kembali oleh Belanda yang dibantu Sekutu dan tidak solidnya para pejuang, tapi setidaknya peristiwa ini telah membuka mata dunia bahwa Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan Bung Karno dan Bung Hatta adalah kemerdekaan seluruh wilayah Indonesia baik di Indonesia Barat maupun Indonesia Timur.
Dengan demikian, hal itu sekaligus juga menegaskan bahwa Minahasa bukan anak emas Belanda apalagi digembar-gemborkan sebagai Provinsi ke 12 Belanda.
Juga untuk pertama kalinya dua kekuatan rakyat menyatu yaitu dari kalangan militer dan sipil, sampai bendera Merah Putih tetap berkibar selama 25 hari di persada Sulawesi Utara.
Sang penulis Tenni Assa menuturkan bahwa apa yang sudah diperjuangkan oleh kedua pejuang asal Minahasa hendaknya bukan hanya sekedar dikenang, akan tetapi lebih baik jika semangatnya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui profesi yang ditekuni masing-masing.
“Tulisan ini dikutip dari sebuah karya ilmiah Skripsi yang berjudul Ch Ch Taulu pejuang merah putih di Sulawesi Utara,” kata Assa.
(***/Frangki Wullur)
