Berita Utama

Charlis Choesj Taulu, Pejuang Merah Putih 14 Februari 1946

Chali mengawali pendidikan di Lagere School, lamanya pendidikan 7 tahun dengan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

Setelah lulus dia masuk MULO dengan lamanya pendidikan 4 tahun.

Meski pun dia mendapat kesempatan sekolah di sekolah Belanda, tapi perlakuaannya tidak sama dengan murid-murid orang Belanda. Di sinilah awal munculnya rasa nasionalisme di jiwa Ch Ch Taulu.

Apalagi setelah dia mengikuti pendidikan militer di Kader School atau Sekolah Kader selama 9 bulan pada tahun 1928.

Dia lulus dengan pangkat Sersan dan selama menjalankan tugas militer Chali melihat dan merasakan perlakuan diskriminasi terhadap tentara KNIL yang pribumi, sehingga semangat nasionalismenya semakin kuat ketika Chali bertugas di Manado.

Memang setelah menyelesaikan pendidikan militer di Magelang, dia ditempatkan di Watampone (1939-1940).

Tapi setelah Jepang menguasai Indonesia, semua tentara Belanda termasuk tentara pribumi ditangkap. Chali dan keluarganya ditampung di Makassar.

Mereka kembali ke Manado dari Makassar dengan menumpang Kapal Laut Dai Maru pada sekitar tahun 1942/1943 setelah dibebaskan dari tawanan tentara Jepang dan di Manado mereka tinggal di Pasar 9 Kampung Tomohon Titiwungen Dalam.

Di Manado, Chali bekerja di Kantor Pekerjaan Umum Jepang di Tikala kemudian dia bertemu dengan sesama anggota tentara KNIL pribumi seperti Papilaya, Picauly dan Komandan Polisi Jepang orang Manado bernama Frans Wangko Sumanti.

Mereka kemudian melakukan pergerakan bahwa tanah untuk melawan Jepang. Setelah kekalahan Jepang, tentara KNIL pribumi diaktifkan kembali.

Tapi muali saat itu Chali melakukan penggalangan di kalangan militer untuk berjuang demi tegaknya kemerdekaan Indonesia.

Seperti di zaman Jepang, gerakan ini dilakukan secara diam-diam dan dia sengaja mengangkat isu perlakuan diskriminasi seperti, gaji yang tidak sama, pembagian ransum, rokok dan tetap masih adanya perlakuan diskriminatif.

Dia kemudian merekrut Sersan SD Wuisan yang ketika itu sebagai Kepala Gudang Senjata dan Peluru.

SD Wuisan selanjutnya menjadi orang kepercayaannya di Tangsi Militer Teling untuk melancarkan aksi merebut kemerdekaan yang puncaknya peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946.

Menariknya, peristiwa yang juga dinamakan Kudeta Militer ini, melibatkan dua kekuatan yang besar, yaitu Ch Ch Taulu di kalangan militer dan BW Lapian di kalangan sipil.

Chali memang melibatkan sipil dalam aksi ini karena melihat kegagalan aksi yang dilakukan Barisan Pemuda Nasional Indonesia (BNPI) dipimpin John Rahasia pada 10 Januari 1946 yang ketika itu ada peringatan hari Perjanjian Belanda dan Minahasa.

Sebelum melancarkan aksi, chali terus melakukan pertemuan dengan BW Lapian (Baca juga: Bernard Wilhelm Lapian, Jurnalis dan Pejuang Merah Putih), dimana sebelumnya Chali bersama PM Tangkilisan, SD Wuisan dan kawan-kawan pada 7 Februari 1946 bertemu denga OH Pantouw.

Tapi OH Pantouw menyarankan untuk bertemu dengan BW Lapian yang mulanya sempat bertanya apakah 30 orang tentara itu akan mampu mengalahkan militer Belanda yang masih ada sekitar 5/6 batalyon.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara